DI MANINJAU saya tidak ikut campur soal pekerjaan istri saya. Namun saya suka diajak berdiskusi kalau ada persoalan-persoalan yang dialami pasien. Tidak pernah saya menemaninya untuk menjalankan tugasnya sebagai perawat atau bidan. Dia tak perlu melibatkan saya karena mampu pergi sendiri.
Kalau saya terlibat campur juga, itu sebatas diskusi dengan dia tentang masalah kondisi dan situasi psikologis dari para pasiennya. Sehingga peran istri saya, tidak hanya berprofesi bidan, adakalanya seolah-olah konsultan perkawinan sampai kepada hubungan intim mereka dengan suaminya. Banyak sekali kompleks dalam rumah-tangga penduduk desa di sekitar Danau Maninjau oleh akibat sistem sosial-budaya Minangkabau.
Saya memang menguatkan pendiriannya, lebih-lebih di zaman perang ini, bahwa kedudukannya sebagai bidan—dan kadangkala juga sebagai perawat—haruslah netral. Tak boleh berpihak secara politis. Maka isteri saya membantu siapa saja anggota masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Kadang-kadang ia harus merawat pasien ke tempat yang jauh dari Maninjau. Misalnya mendaki bukit, sampai ke dusun-dusun pinggiran di tepi hutan. Kalau ada orang yang butuh bantuan, maka ada anggota keluarga mereka yang menjemput kemudian mengantar istri saya pulang.
Selain menolong wanita melahirkan, ia juga mengobati orang Iuka karena perang di zaman perang saudara itu. Dengan perkataan lain istri saya tidak hanya menjalankan tugas sebagai bidan tetapi juga sebagai perawat.
Dalam situasi yang sulit di tengah perang saudara, di mana desa-desa sangat terisolasi, tugas isteri saya berganda-ganda karena tidak ada mantri perawat, apalagi dokter. Terutama dalam menghadapi kelainan pada kehamilan pasien, yang seharusnya ditangani dokter di rumah sakit.
Ada dua pasien yang punya kelainan berat dalam kehamilannya, yang hingga kini masih terkesan dalam kehidupan isteri saya. Yang seorang istri pejabat inti PRRI. Yang Iainnya anak ulama besar A.R. Sutan Mansur. Keduanya dilarang hamil lagi oleh dokter. Tapi mereka hamil juga, karena di masa itu belum ada alat kontrasepsi atau sistem ‘berkala’ yang ampuh. Isteri pejabat itu telah melahirkan 10 anak. Anak yang terakhir lahir dengan amat payah karena kehabisan darah. Sedangkan anak ulama itu lebih parah lagi karena kondisi fisiknya dari “sononya” sudah lemah.
Dalam merawat kelahiran anak mereka, isteri saya sampai tiga hari tiga malam praktis tidak tidur karena pasien itu sering colaps. Dia membalik-balik lagi catatan dan diktat pelajaran pada masa pendidikannya di sekolah bidan Budi Kemuliaan dan berdoa terus kepada Tuhan. Dia sangat merasa takut kalau akibatnya fatal. Kelahiran anak mereka memang sukses.
Tapi yang paling berakibat buruk terhadap kondisi fisik isteri saya, ialah ketika menghadapi kelahiran bayi dari anak A.R. St. Mansur. Waktu itu Aksari baru seminggu melahirkan anak kami kedua, Lusi Bebasari. Air susunya menjadi kering. Sehingga Lusi yang bayi harus dibantu dengan susu bubuk terus-menerus. Selain sulit didapat, juga harganya pun selangit. Namun isteri saya merasa bahagia sekali, bahkan bangga juga. Karena praktek dokter ahli dapat dilakukan dalam kondisi serba tidak ada alat, seperti infus umpamanya.
Di setiap BKIA ada bidan dan ada perawat. Bidan membantu ibu-ibu melahirkan, sedangkan perawat mengobati orang sakit. Dalam keadaan normal, atau di masa damai, kedua tugas itu menjadi tanggung jawab masing-masing. Bidan tak boleh mengambil alih kerja perawat, begitu pun sebaliknya. Selain profesi masing-masing berbeda, juga ada pengaruhnya terhadap pemasukan keuangan masing-masing.
Sebenarnya waktu itu di BKIA Maninjau juga ada seorang mantri perawat namun begitu penakutnya. Apalagi kalau sudah mendengar tembakan-tembakan. Karena itu istri saya turun tangan. Mulanya karena terpaksa, atau di-fait accompli keadaan.
Suatu malam terjadi pertempuran atau hujan tembakan. Maka jatuh korban di pihak APRI. Karena sang mantri tak keluar maka rumah kami yang diketuk-ketuk.
Besoknya mantri bilang, “Terima kasih I, Bapak takut karena mendengar letusan-letusan malam. Tak bisa badan digerakkan.” Istri saya sering dipanggil I saja, yaitu nama panggilan dalam keluarga.
Malahan selanjutnya ia serahkannya sendiri pasien yang gawat atau korban pertempuran yang Iuka parah untuk dijahit. Padahal sebenarnya bukan tugas istri saya.
Pernah desa-desa Maninjau dihujani mortir dari Embun Pagi, Matur. Maka ada yang Iuka-Iuka. Begitu pun sebaliknya akibat aktivitas pasukan PRRI—itu sekitar tahun 1960,
Di malam lain ada seorang wanita Iuka parah kena pecahan peluru mortir dari Lawang. Kena dadanya. Keluarga korban memanggil-manggil mantri perawat tapi ia tidak di rumah. Maka orang-orang mengetuk pintu rumah kami, membawa korban yang Iuka parah. Akhirnya ia begitu populer dan dipanggil siapa saja “Uni I”. Anak-anak yang mau disunat pun akhirnya menolak disunat oleh Pak Mantri dan minta disunat oleh istri saya. Istri saya melakukannya dengan persetujuan Pak Mantri yang sadar bahwa istri saya memang punya kelebihan dan haknya untuk dipilih pasien atau anak-anak yang mau disunat.
Suatu malam Iain lagi istri saya ke Koto Kacik—10 km dari tempat kami—berjalan kaki di bawah sinar bulan. la dijemput pasukan APRI untuk mengobati temannya yang Iuka. Kan berbahaya, karena siapa tahu diintai dan ditembak oleh tentara PRRI di perjalanan. Untunglah hal itu tak pernah terjadi.
Ketika perang saudara sudah usai, istri saya bertemu dengan eks tentara PRRI. Salah seorang mereka bercerita bahwa pasukannya memang pernah melihat istri saya berjalan kaki dalam remang-remang terang-bulan ke Koto Kacik: “Tapi kami biarkan, karena tahu ada Uni I!”
“Coba kalian tidak tahu Uni I!” kata istri saya.
Memang, istri saya tidak hanya populer di kalangan penduduk tapi juga di kalangan pasukan PRRI yang lama bertahan di sekitar danau Maninjau.
Sekali jatuh korban anggota pasukan PRRI dari Embun Pagi dan digotong ke rumah kami. Luka-lukanya dijahit sebelum akhirnya ia cepat pergi, sebelum diketahui tentara APRI.
Istri saya menolong kedua belah pihak, baik APRI atau PRRI. Meski di zaman bergolak, alhamdulillah, tidak ada masalah. Istri saya tidak punya rasa takut, mungkin karena merasakan bahwa orang memandang posisi dan tugasnya benar-benar sebagai bidan dan perawat. Hal itu membebaskannya dari ukuran atau sentimen pemihakan perang atau pemihakan politik. Sebaliknya kenyataan itu ada hikmahnya bagi kami. Bahwa posisi istri saya sebagai bidan merangkap perawat di zaman perang saudara itu, membuat kami cukup terlindung dan selalu berada dalam suasana rasa aman dari kedua belah pihak yang terlibat pertempuran atau permusuhan.
Apalagi pada hari-hari yang kritis. Maksud saya ketika baik pasukan APRI atau PRRI berganti-ganti memasuki Maninjau. Kalau datang tentara pusat, rumah saya dijadikan markas. Kalau tentara pusat pergi, saya tinggal lagi dengan keluarga. Dan orang-orang PRRI suka bertamu.
Karena rumah saya jadi markas tentara pusat—akhirnya saya tahu dari Mayor Datuk Machudum, seorang komandan pasukan PRRI dan pemilik Machudum’s Hotel—rupanya ada rencana perwira PRRI itu mau menculik saya.
Tetapi tidak jadi dilakukan karena ada faktor-faktor pertimbangan lain yang mencegah. Saya sendiri tidak tahu faktor-faktor apa, barangkali faktor istri saya.
***
PERANG SAUDARA bukan saja jahat karena saling membunuh. Tapi juga menimbulkan suasana ketakutan bahkan korban-korban di kalangan penduduk. Tentunya yang terakhir ini biasanya dipandang sebagai ekses yang tak terelakkan dari suasana perang pada umumnya.
Yang memilukan dan teramat memprihatinkan saya adalah kenyataan bahwa ketakutan penduduk itu bertambah hebat dan mencekam karena gaya dan tingkah laku anggota-anggota militer yang berlebih-lebihan.
Sikap pamer kekuasaan demikian dirasakan orang amat menekan dan memualkan terutama dari unsur-unsur yang kemudian dikenal sebagai unsur-unsur komunis di dalam jajaran Batalyon B. Meskipun bukan seluruh anggota Batalyon B adalah komunis, namun sikap dan tingkah laku oknum-oknum unsur komunis yang tak mengindahkan nilai-nilai adat setempat—seperti melakukan perkosaan terhadap wanita, atau penyiksaan berat misalnya menghukum penduduk yang tertidur di rumah ronda dengan berendam di kolam dan bersabun sebatang sabun cuci cap Sunlight—sungguh menciptakan citra buruk keseluruhan jajaran Balatyon B.
Berkaitan dengan itu tak lama setelah APRI menduduki Maninjau, saya pernah membicarakannya dengan Bupati Agam Mayor Taswar Akip. Sebelumnya di kota Bukittinggi, istri saya Aksari Jasin kenal baik dengan Yusna Djarin—istri Taswar Akib, Bupati Agam saat itu. Mereka teman sekelas di SMP. Karena itu ia juga kenal baik dengan Taswar Akib. Ini suatu kebetulan yang ternyata berguna ketika kami berada di Maninjau. Saya ingin menyampaikan suatu gagasan yang saya anggap baik untuk ketenteraman masyarakat di tengah perang saudara yang sedang berkecamuk.
Saya bilang pada Taswar Akib, kalaulah APRI masuk menduduki kampung demi kampung tanpa perkosaan, tanpa keganasan, sudah lama rakyat berpihak pada APRI. Sebaliknya, rakyat takut pada APRI. Apalagi setelah penumpasan PRRI dimobilisasi OPR (Organisasi Perlawanan Rakyat), yakni pemuda sipil kampung yang dipersenjatai, yang konon didominasi Pemuda Rakyat, organ PKI. Mereka pun terkenal kejam-kejam.
Taswar Akip hanya bisa bilang, perang saudara di mana-mana memang kejam.
***
MENJELANG Maninjau diduduki APRI beberapa kali mereka melakukan patroli. Datangnya pagi, kembalinya tengah hari. Suatu kali rumah kami digeledah. Obat-obatan dan peralatan kebidanan istri saya dirampas seorang letnan. Parjono namanya. Pada waktu Maninjau betul-betul diduduki secara tetap, Parjono yang menjadi komandan di sana. Dan sekali dia jatuh sakit. Malarianya kambuh. Isteri saya merawatnya. Balasannya? Seluruh peralatan kebidanan yang dirampasnya dikembalikan, terkecuali obat-obatan, dengan permintaan maaf. Itu artinya selama dia menjadi komandan APRI di Maninjau kami akan terlindung dari macam-macam hal.
Rasa aman itu juga kami peroleh dari kunjungan Komisaris Besar Mustafa Pane yang bertugas di Jakarta. Isterinya kerabat dekat dari Ibu Sitti Agam, isteri Engku Hamid. Mungkin dialah yang minta agar mengunjungi kami. Kemudian datang lagi Komodor (Alri) M. Kamal. Dia orang Maninjau. Sengaja mampir ke rumah kami untuk menyatakan terima kasih kepada isteri saya karena telah menolong keluarganya berobat. O ya, seorang komandan kompi, Kapten Bujang Bazoka, juga datang. Dari halaman rumah dia sudah berteriak-teriak memanggil nama kecil saya. “Ali. Ali ini aku.” Dia teman saya sejak kecil di Padangpanjang. Dan saya kira dengan berteriak-teriak itu, seolah-olah dia ingin mengatakan kepada orang banyak, bahwa saya adalah temannya. Jangan ganggu.
000
Leave A Comment