PADA tahun 1972 dibuka Pertemuan Sastrawan Indonesia yang pertama di Taman Ismail Marzuki. Konon ada yang merasa heran melihat saya hadir. Disangka mereka saya sudah “hilang” atau ditahan sebagai tapol, hanya gara-gara saya ikut Konperensi Pengarang Asia Afrika yang berlangsung pada tanggal 8—11 Agustus 1963 di Denpasar, Bali dan diasosiasikan sebagai komunis. Saya akan berkisah agak panjang tentang itu.
Waktu saya masih di Maninjau, awal tahun 1963, saya kedatangan tamu Joebaar Ajoeb. Putra kelahiran Bukittinggi ini Sekjen Lekra dan pengarang cerita drama Minang kaba Siti Jamilah. Profil orangnya biasa-biasa saja. Bahkan tanpa agitasi apa-apa. Saya kenal dia sebagai pengarang karena pernah membaca karangan-karangannya.
Surat saya kepada H.B. Jassin dari Maninjau, 23 November 1960, memperlihatkan pandangan saya tentangnya:
“…. Sitor, Joebaar dan Buyung Saleh, serta Gajus, saya rasa telah gagal (maksud saya berhenti) sebagai seniman, yang menjadi cita-citanya semula”, karena keterlibatan mereka di dalam politik.
Di Maninjau Joebaar bilang akan ada Konperensi Pengarang Asia Afrika di Pulau Bali. Dan ia tanya, apakah saya mau ikut kalau diundang.
Saya jawab, “Ya, mau saja!”
Setahu saya di lingkungan kebudayaan duduk satu meja bersama dengan orang komunis bukanlah hal yang ganjil. Majalah Siasat juga memuat tulisan-tulisan orang komunis seperti Buyung Saleh, padahal itu majalah orang Partai Sosialis Indonesia (PSI). Dan di BMKN dan dewan redaksi majalah Indonesia juga duduk orang-orang Lekra bersama Trisno Soemardjo dan Anas Makruf yang antikomunis. Banyak seminar dihadiri tokoh komunis, nonkomunis dan antikomunis. Lagi pula dewasa itu, sampai awal tahun 1963, aksi-aksi resmi PKI masih tergolong wajar-wajar saja. Tentu saja tak termasuk Peristiwa Madiun sebelumnya. Barulah setelah PKI menjalankan “aksi-aksi sepihak” dan mempunyai program berbagai macam “pengganyangan”, seperti terhadap BPS, Manikebu, terhadap tuan-tuan tanah di Jawa dan seperti di Bandar Betsy, Sumatera Utara, PKI muncul dengan kebudayaan menghalalkan semua cara, yang memuncak di tahun-tahun berikutnya ketika PKI mencanangkan program politiknya yang “offensif revolusioner”.
Saat itu saya belum tahu, kalau Joebaar Ajoeb itu Sekjen Lekra, juga tak tahu kalau konperensi itu program politik PKI. Saya rasa, kalaupun suatu program yang memiliki kepentingan politik maka paling-paling politik kenegaraan.
Mungkin karena saya bukan orang politik praktis maka tuduhan orang-orang Lekra tahun 1961 bahwa Tenggelamnya Kap van der Wijck adalah jiplakan sebuah roman Mesir masih saya anggap sebagai suatu intellectual discourse dan bukan aksi politik untuk menyudutkan Hamka dan H.B. Jassin. Dalam sepucuk surat saya dari Maninjau kepada H.B. Jassin tanggal I Februari 1962, antara lain saya menulis:
…. sajapun sedang mempersiapkan studie tentang Hamka. Saja sungguh ketjewa sekali tentang roman2 Hamka….. Tapi buku2nja sangat laku di kampung2, meski mahal dibeli orang (juga). Bukunja jang terbaik Merantau ke Deli kurang lakunja. Saja harap saudara mempertimbangkannja untuk Sastra atau Mimbar kelak.
Saya sendiri di Bukittinggi meneruskan pergaulan dengan tokoh-tokoh Iokal Lekra seperti Haznam Rahman. Namun dalam surat yang sama saya berkata kepada Jassin:
Saja djuga sedang menulis sebuah roman tentang gembong komunis yang ada dikampung saja, tapi sampai sekarang belum djuga siap2nja. Dan saja kira2 kawan2 di Lekra akan djadi marah besar kepada saja kelak. Itu soal dia….
Surat itu masih disimpan pada Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.
***
PADA TAHUN 1963, pergilah saya ke Bali mengikuti Konferensi Pengarang Asia Afrika di Denpasar.
Pada acara pembukaan tanggal 8 Agustus di Denpasar, yang berpidato bukan tokoh sastra tetapi tokoh PKI, Nyoto. Saya ketemu Mahbub Djunaidi. la yang bilang pada saya: “Ini, Bung Navis, program komunis!”
Barulah saya yakin dengan persangkaan saya, meskipun hadir juga Mahbub Djunaidi sendiri dari Lesbumi (onderbouw partai NU) serta Sitor Situmorang dan Virga Belan dari LKN (onderbouw PNI).
Di Bali saya ditempatkan di hotel terbaik bersama Agam Wispi. Kalau tak salah Hotel Sanur. Namun di sana dihidangkan juga daging babi. Saya minta pindah. Karena itu maka saya pindah hotel. Virga Belan mengajak saya tinggal dengan dia di hotel yang lebih murah.
Keluar hotel saya selalu didampingi Agam Wispi dan Virga Belan. Juga seorang penyair Surabaya, Danu Kusumo.
Di Denpasar saya ketemu Pramoedya Ananta Toer. Tapi tak sempat bicara apa-apa selain saling melambai.
Barulah sekembali dari Bali, saya akrab dengan Pram. Ketika di Kaliurang. Itu karena peserta konperensi pada sight seeing di Yogya menjelang acara penutupan KPAA. Kami tinggal berdua saja.
Kepada saya ia memuntahkan marahnya yang bukan main pada Lekra berkaitan dengan pelaksanaan konperensi pengarang Asia- Afrika di Bali itu.
“Omong kosong ini semua, munafik!” katanya.
Pram bercerita bahwa ia diminta untuk menyampaikan sebuah pidato. Namun sebelum dibacakan olehnya, pengurus Lekra meminta agar Pram menyampaikan dulu naskahnya kepada mereka. Pram menolak sebab tak mau pikirannya disensor. Pram memprotes.
“Kalau disensor biar saya tidak ikut!” begitu katanya kepada pimpinan Lekra, demikian cerita Pram pada saya.
Akhirnya Pram menyampaikan pidato juga. Tanpa disensor sama sekali. Seandainya PKI berkuasa, saya rasa Pram pun takkan dipakai—kalau bukan dibunuh. la terlalu bebas, terlalu kritis dan liberal bagi orang komunis.
***
SEHABIS penutupan konperensi di Yogya, saya diundang memberikan ceramah pada organisasi keluarga mahasiswa Minang di Yogya. Dalam perjalanan pulang saya singgah di Bandung dan menginap di Hotel Homann. Suatu malam saya dijemput ke hotel oleh penyair Ramadhan KH dan Mh Roestandi Kartakusumah untuk makan malam ke rumah Ramadhan KH.
Yang saya tak habis pikir, dari rumah Ramadhan saya dibawa mereka ke sebuah rumah bordil. Saya pikir, saat itu agaknya saya diuji oleh Ramadhan KH. Untuk apa mereka membawa saya ke rumah pelacuran? Suatu hal yang tak masuk akal, sebab Ramadhan selalu alim dan istrinya cantik. Mereka masuk dan saya ditinggal sendiri di ruang depan yang melayani pesanan tamu-tamu. Maka saya pun pulang sendiri ke hotel. Tak lama kemudian mereka menyusul saya ke hotel. Maka tahulah saya mereka betul-betul mau menguji saya.
Masih ada catatan kecil di Bandung berkaitan dengan KPAA. Seorang penyair Surabaya, Danu Kusumo, rupanya pengagum karya saya, sejak di Bali selalu bergabung ke mana saya. Saya sadar bahwa ia ditugaskan mempropaganda saya agar masuk komunis. la menangis saat berpisah dengan saya di Bandung.
Saya bertanya kepadanya apa cita-citanya. la bilang mau jadi penyair. Kepadanya saya nasihatkan bahwa ia seharusnya berpikir sungguh-sungguh: “Kalau Bung mau jadi penyair maka Bung janganlah bekerja untuk organisasi Lekra begini. Berpartai menghilangkan kebebasan menulis. Menurut orang partai, partailah yang nomor satu. Menulis hanya alat untuk kepentingan partai. Bung harus berani memilih jalan hidup sendiri.”
Maka entah kenapa, menangislah ia. Seperti seorang anak kepada bapaknya.
***
DI KANTOR majalah Sastra saya ketemu D.S. Mulyanto di Jakarta. la bilang, teman-teman sedang berkumpul di rumah Bokor Hutasuhut.
“Datanglah,” lanjutnya seperti undangan.
“Di mana?”
“Dekat-dekat sini!”
Maka saya carilah rumah yang ditunjukkan Moeljanto, Iokasinya tak saya ingat lagi sekarang. Ternyata tak ada yang kenal di sekitar itu. Apakah saya dibohongi?
Berkaitan dengan itu sebelum ke Bali saya singgah pula ke rumah Jassin. Saya bercerita tentang rencana mau menghadiri Konperensi Pengarang Asia Afrika di Bali. la tak punya komentar apa-apa. Saat itu ia sedang perang tanding dengan Pram tentang tuduhan plagiat terhadap roman Tenggelamnya Kapal van der Wijck Hamka. Sekembali dari Bali saya pun singgah juga menemui Jassin. Ada tiga kali saya menemui Jassin. la juga tidak cerita apa pun, agaknya karena tahu saya ikut Konperensi Pengarang AA ke Bali dan punya penilaian tertentu tentang konperensi dan para pesertanya.
E e e, ketika saya kembali di Sumbar saya dengar pengumuman tentang Manifes Kebudayaan tanggal 17 Agustus 1963. Rupanya saya dikucilkan gara-gara ikut konperensi pengarang AA. Perih sekali rasanya dikucilkan teman-teman! Toh saya bersama teman-teman di Sumatera menyatakan dukungan terhadap Manifes Kebudayaan, meskipun tak sempat diumumkan karena majalah Sastra sudah tak terbit lagi!
Tapi sebenarnya yang benar-benar membuat saya kaget dan dipencilkan adalah ketika beberapa hari sebelumnya di Yogya, Bastari Asnin dkk menyesali kehadiran saya dalam Konperensi Pengarang AA di Bali itu. Kejadiannya malam hari. Saat itu sedang berlangsung acara resepsi penutupan KPAA di Sitti Hinggil. Para peserta disuguhi berbagai atraksi kesenian, seperti tari-tarian dan lain-lainnya. Saya keluar dari Sitti Hinggil sekitar pukul 23.00 dan di pintu gerbang disongsong oleh Bastari Asnin bersama serombongan teman-temannya, yang menyatakan penyesalan.
“Kami kecewa, benar-benar kecewa. Karena sebagai pengarang Islam Bung kok ikut konperensi pengarang komunis di Bali!” kata Bastari.
“Saya tidak komunis,” jawab saya.
“Tapi kami amat kecewa!” ulang mereka.
Dialog terhenti di situ. Hanya sekadar memberikan pernyataan sikap. Kalau saya tidak salah, kelompok Bastari juga yang menjadikan cerpen Robohnya Surau Kami sebagai sebuah play yang dipertunjukkan di kampus Gadjah Mada beberapa tahun sebelumnya.
Saya pikir, sebagai pengarang saya harus menyatakan bahwa saya bukan komunis. Caranya? Yah, dengan menulis novel. Maka di Maninjau lahirlah novel Kemarau.
Berkaitan dengan itu dari Bukittinggi, 18 Mei 1974 saya menulis surat sebagai jawaban kepada Umar Junus di Kuala Lumpur:
Tentang cerpen ‘Datang dan Perginya’ memang ada persamaan dengan (novel) Kemarau. Hal itu bukan karena perubahan cara berpikir. Melainkan karena penentuan sikap yang lebih tegas dari pandangan keislaman saya. Novel itu saya tulis pada tahun 1963, setelah saya kembali menghadiri Konperensi Pengarang Asia Afrika di Bali dan karena itu saya dituntut oleh banyak teman-teman (lebih-lebih dari HMI Yogya, terutama Bastari Asnin), Untuk menyatakan saya tidak komunis, Ialu saya tulislah novel tersebut. Sekian.
Saya tambahkan dalam surat 27 Juni 1974, begini:
Dalam Kemarau, saya lebih ingin memberikan sugesti (saran), sedang di dalam ‘Datang dan Perginya’ saya membiarkan pembaca memperoleh pertimbangan sendiri.
Dalam hal ini, saya berpaham humanisme yang terkontrol oleh agama yang saya anut. Humanis yang tidak terkontrol oleh keimanan, menurut saya adalah nonsens.
***
KETIKA saya sudah jadi anggota DPRD Sumatera Barat dan sudah menetap di Padang, tahu-tahu saya menerima sepucuk surat dari Joebaar Ajoeb yang tinggal di Jakarta, 12 April 1980. Bunyinya antara Iain sebagai berikut:
Saya rasa Bung tidak akan terkejut apa lagi takut menerima surat saya ini. Saya sudah dibebaskan November 78 dan pada Juni 79 saya pulang menjenguk kampung halaman serta kuburan kedua orang tua saya yang meninggal ketika saya masih di penjara.
Pada waktu saya pulang ke Bukittinggi itu, ada saya usahakan untuk melakukan “kunjungan kehormatan” kepada Bung selaku sahabat dan wakil rakyat Sumbar di Lembaga Perwakilan Rakyat itu. Tetapi karena beberapa hal, kunjungan itu tidak terlaksana.
Pada Kompas Minggu itu juga saya menemukan berita tentang akan diadakannya semacam pertemuan untuk memperkatakan kebudayaan Minangkabau di mana Bung tampaknya juga menjadi pendulangnya. Saya mengharap segala sukses bagi pertemuan yang akan datang itu.
Bersama dengan surat ini, saya mengirimi Bung sebuah buku Al Takmilah suatu terjemahan yang diterbitkan oleh sebuah Yayasan yang saya ikut mendirikan dan mengurusnya.
Ketika saya buka buku itu, Al Takmilah, maka saya baca Kata Pengantarnya yang ditulis Wakil Presiden Adam Malik.
Secara tidak langsung kemudian, sekitar tahun 1982, saya malahan seperti melakukan suatu “kerja sama” dengan Joebaar. Naskah saya yang kemudian diterbitkan Penerbit Grafiti di bawah judul Alam Terkembang Jadi Guru rupanya harus melewati proses editing yang cukup berat. Konon penerbit meminta Joebaar Ajoeb mengeditnya, tapi kemudian karena lamban dan seolah ia mengarang sendiri maka diganti dengan editor Iain.
000
Leave A Comment