DARI Jakarta saya menumpang pesawat DC 10 milik KLM ke Singapura, besoknya terus ke Amsterdam dengan Boeing 747—juga milik perusahaan penerbangan KLM. Saya tak bisa pindah-pindah pesawat. Penerbangan saya ke Amsterdam adalah hadiah atau sumbangan KLM karena saya memenangkan hadiah Kincir Emas dari Radio Negeri Belanda dalam sayembara penulisan cerpen. Saya pun diberi kesempatan ke Belanda dan Eropa selama 15 hari.
Perjalanan ke Eropa tahun 1976 itu adalah perjalanan saya yang pertama ke benua itu.
Dibandingkan dengan sesama sastrawan Indonesia lain, saya termasuk yang paling ketinggalan dalam memanfaatkan kesempatan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri. Sehingga pada waktu upacara penyerahan hadiah Kincir Emas oleh Duta Besar Negeri Belanda di Jakarta 15 Maret 1976, Ayip Rosidi berkelakar: “Setelah Navis berdinas 20 tahun sebagai pengarang, barulah ia punya kesempatan ke Eropa. Sedangkan orang lain, dalam masa dinas lima tahun saja sudah bisa keliling dunia.”
Perjalanan saya ke Eropa itu betul-betul di luar dugaan. Sebab ketika saya ikut menulis cerita pendek untuk sayembara Kincir Mas yang diadakan Radio Belanda tahun sebelumnya, saya tidaklah memikirkan untuk memperoleh kemenangan, apalagi untuk jadi nomor satu. Ternyata saya menerima hadiah pertama Kincir Emas untuk cerita pendek ‘Jodoh’ dari Duta Besar Negeri Belanda, Paul Jalink. Lalu Rachmat Ali dengan cerita pendek berjudul ‘Kena Jaring’ memenangkan Kincir Perak, sedangkan Oei Sien Tjwan untuk cerita pendeknya ‘Serantang Kangkung’ memenangkan Kincir Perunggu. Upacaranya berlangsung di gedung Erasmus Huis, Jakarta, 15 Maret 1976.
Bahwa perjalanan saya ke Eropa karena profesi kesusastraan saya, itu pun barangkali karena semacam ‘ratak tangan’ (nasib baik) saja. Soalnya telah hampir sepuluh tahun saya tidak menulis cerita pendek lagi, setelah cerpen ‘Angkatan 00’ dimuat oleh majalah Horison. Sebenarnya saya menulis tiga cerpen untuk sayembara Kincir Emas. Cerpen ‘Jodoh’ yang mutunya saya anggap di bawah dua cerpen lainnya itu yang justru mengantarkan saya ke Eropa. Bukankah itu benar-benar suatu nasib baik?
Dengan mengalami berbagai modifikasi dalam imajinasi saya maka ide penulisan cerpen ‘Jodoh’ itu berawal dari kisah-kisah bercampur senda gurau di Taman Budaya Padang tentang teman kami seorang penyair (sekaligus seorang pembaca sajak yang semarak) ketika mencari atau menemukan jodohnya.
Saya ingat, ketika cerpen itu baru saja rampung dari mesin ketik maka pembaca cerpen saya pertama, istri saya, sudah tersenyum pada kertas yang dibacanya. Bagi saya itu hanya pertanda bahwa cerpen itu layak untuk dimuat di media penerbitan sastra di Indonesia tapi bukan untuk layak mendapat hadiah Kincir Emas atau menjadi yang terbaik dari 800 cerita pendek yang dinilai para juri.
Ada enam orang juri sayembara Kincir Emas, tiga juri Indonesia dan tiga juri Belanda. Pihak Indonesia diwakili oleh H.B. Jassin, Ajip Rosidi dan Umar Kayam, sedangkan pihak Belanda diwakili oleh Prof.Dr.A.A. Teeuw, G. Termoshuizen dan J.W. de Vries. Masing-masing juri menilai 133 cerpen lalu mencalonkan delapan cerpen pemenang. Dari 48 cerpen yang di-seeded maka ‘Jodoh’ dinilai sebagai cerpen yang terbaik.
Menjawab pertanyaan saya maka salah seorang juri Belanda, G. Termorshuizen, menjelaskan bahwa cerpen ‘Jodoh’ dengan kentara sekali memperlihatkan ‘warna Indonesia’. Kriteria seperti itu tentunya tidaklah segera saya pahami.
H.B. Jassin menjawab pertanyaan wartawan menyatakan bahwa pengarangnya secara tajam mengamati perubahan yang terjadi di dalam masarakat Minang dewasa ini. Sedangkan Ajip Rosidi berkomentar, bahwa karya Navis itu bagus, tapi bukan cerpen yang terbaik. “Artinya, masih ada karya Navis lain yang lebih baik daripada itu, yang pernah diterbitkan,” kata Ajip. Sebenarnya cerpen ‘Orde Lama’ dan ‘Tuan Effendi’ yang menjadi pilihan juri Indonesia. Alasan pemilihan juri Belanda, warna Iokal tak bakal terjadi di mana-mana di dunia—kata G. Termoshuizen. Jadi kriteria berbeda. Kadangkala tafsiran kritikus dan sarjana aneh-aneh, tak pernah kita pikir sebelumnya.
Saya sendiri mulanya heran juga. Saya mengirim karya tiga judul yakni ‘Orde Lama’, ‘Kawanku Effendi’, dan ‘Jodoh’. Cerita ‘Orde Lama’ dan ‘Kawanku Effendi’ saya nilai bagus. Tetapi yang menang malah ‘Jodoh’. Padahal ‘Jodoh’ saya relatif cepat dan saya anggap cerita itu sekadar pop saja. Kiranya, ‘Jodoh’ yang menang. Cerita yang dua lagi, yang sungguh-sungguh saya pikirkan dan karang, malah tidak dianggap. Jadi apa yang kita (saya) pikir bagus, orang bisa tidak menilai demikian. Apa yang saya anggap tidak bagus, malah dinilai bagus oleh orang lain. Tetapi, biasanya hal-hal itu tidak menjadi pikiran saya. Tidak mungkin menyamakan selera kita dengan orang lain.
Rekan saya Ramadhan K.H. menyatakan bahwa orang-orang Eropa memang lebih tertarik pada karya sastra Indonesia yang betul-betul menggambarkan ciri keindonesiaan daripada karya yang melukiskan kemajuan pada umumnya. Berbagai antologi sastra Indonesia yang telah diterbitkan oleh orang-orang asing, katanya, memang mengutamakan ciri-ciri keindonesiaan. Berkaitan dengan itu ia berkata bahwa saya sangat beruntung terus tinggal di daerah sehingga ciri-ciri unik keindonesiaan tercermin dalam karya-karya saya. la malahan melanjutkan lagi, bahwa cerpen-cerpen saya termasuk karya sastra Indonesia yang tersering diterjemahkan di luar negeri.
Apa iya? Sampai dewasa itu memang telah empat cerpen saya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis, Jepang, Inggris, dan Jerman. Sedangkan salah satunya, cerpen ‘Robohnya Surau Kami’, sudah diterjemahkan ke dalam empat bahasa. Dan bagi Thermohuizen, seperti diucapkannya dalam pidato sambutan, sungguh kenyataan yang tidak lucu berhubung belum satu pun cerpen saya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Belanda.
***
HADIAH Sastra adalah salah satu bentuk penghargaan terhadap karya dan prestasi seorang pengarang. Namun tak selalu hadiah mencerminkan kualitas. Setidaknya banyak yang berpandangan demikian. Adakalanya suatu hadiah oleh suatu lembaga mengutamakan kriteria politik. Suatu kriteria politik bisa menyudutkan karya dan kedudukan seorang pengarang di negerinya sendiri. Demikianlah yang terjadi pada Pramoedya Ananta Toer. Namun hal itu tidak berarti secara literer (sastra) karya-karyanya jelek.
Saya sendiri tak begitu produktif. Dan sedikit memenangkan penghargaan resmi. Setelah mendapat hadiah Kisah, saya juga mendapat hadiah UNESCO karena novelet saya Saraswati, Gadis dalam Sunyi, menang. Saya dapat hadiah Rp 75 ribu. Jumlah itu sangat banyak rasanya. Tertolong dapur dan keperluan Iainnya.
Namun karya-karya saya yang sedikit diulas cukup banyak kritikus dan penulis di pelbagai media massa sehingga bukan saja orang lain tapi saya sendiri cukup yakin bahwa saya tidaklah menulis untuk suatu kesia-siaan.
Kalau karya saya tidak dikritik orang, hiba benar hati saya (sedih). Bahwa karangan saya itu tidak dianggap orang.
Kritik sastra yang saya sukai adalah kritik sastra yang apresiatif, yang dapat memperkaya wawasan saya dan dapat mempengaruhi proses kreatif saya dalam berkarya. Kita jadi tahu dengan kesalahan, setelah dikritik. Sehingga pada karangan saya yang lain, akan berfaedah dan kesalahan sama tidak terulang lagi. Mungkin kesalahan itu sifatnya teknis. Atau substansial tentang ide atau visi kepengarangan itu sendiri. Kritik yang bagus, akan membantu untuk mengarang lebih baik.
Saya tidak kecewa kalau ada karya saya yang tidak dianggap. Misalnya ada kritikus yang tingkat wawasan dan pengetahuannya di bawah saya, untuk apa saya berang atau kecewa kalau karya saya dimaki-makinya. Brengseknya, kritikus sastra di Indonesia banyak yang demikian. Padahal mereka sudah sarjana. Meskipun resminya ahli sastra, kalau kritiknya tidak benar tidaklah saya pedulikan. Banyak orang yang mengritik asal mengritik saja.
Kritikus atau penulis kritik yang dapat saya belajar setelah membaca kritiknya adalah H.B. Jassin, Idrus, dan M. Balfas. Banyak tulisan mereka yang membicarakan masalah-masalah sastra, dan saya sangat dipengaruhi dalam mengarang. Banyak ambo manimbo aie dari mereka itu (banyak saya dapat pengalaman dari mereka itu).
Ulasan yang saya nilai paling baik dan mengesankan yaitu pembicaraan Bahrum Rangkuti—yang pernah menjadi Sekjen Departemen Agama—dalam skripsinya tentang ‘Robohnya Surau Kami’. Dia membuat perbandingan-perbandingan terhadap karya sastra Islam, termasuk karya saya. Dari perbandingan-perbandingan itu, saya menjadi bertambah kaya.
Karya saya yang saya anggap bermutu tapi tidak mendapat respons, ada. Yaitu ketika saya mengikuti sayembara Kincir Emas itu.
Kawan-kawan di Padang lebih suka cerita saya ‘Pemburu dan Srigala’, ‘Dokter dan Maut’, sementara A. Teeuw suka cerita ‘Tanpa Tembok’. Perbedaan pendapat dapat saya terima. Sebab, saya kan orang Padangpanjang, di mana masyarakatnya terdiri dari berbagai macam etnis dan aliran. Saya terdidik untuk toleran terhadap perbedaan pendapat. Kalau ada orang yang tidak suka dengan saya, itu mungkin karena saya salah atau orang yang tidak mengerti sikap saya.
Latar belakang pemikiran dan cara memandang sesuatu, menimbulkan perbedaan pendapat. Dalam hal-hal tertentu cara berpikir orang Minang dengan orang Jawa berbeda. Apa yang kita anggap sebuah permasalahan besar, orang daerah Iain mungkin melihatnya sebagai persoalan kecil. Kadang-kadang pendapat orang kita nilai gilo (tak masuk akal), tapi bagi mereka biasa-biasa saja.
***
BANYAK kesan pribadi yang saya peroleh dalam perjalanan pendek 15 hari ke Negeri Belanda dan Eropa.
Di Negeri Belanda sendiri, misalnya, saya melihat bagaimana orang mengeringkan laut untuk dijadikan daratan. Suatu kisah seperti dongeng yang terus hidup dari masa kecil saya tentang sempit atau miskinnya tanah Nederland tapi juga keunggulan bangsa Belanda mengatasinya. Tanggul pertama dipasang di daerah genting Zuiderzee utara yang berbentuk teluk, itu tahun 1932 atau 62 tahun yang Ialu. Penimbunan laut tidaklah dilakukan sekaligus pada saat yang sama, melainkan setahap demi setahap. Caranya, air laut yang berpasir dipompakan ke laut yang sudah dilingkari tanggul, seperti penimbunan rawa-rawa Ancol tahun 1963 dulu. Mereka melakukannya pelahan-lahan, sampai puluhan tahun. Dengan perencanaan, administrasi dan kemampuan teknologi yang akurat dan efisien.
Lalu saya juga tertarik, bahwa program pembangunan fisik mereka tidak selalu berarti modernisasi—tapi mungkin hanya rehabilitasi. Bangunan-bangunan modern, misalnya, tidak didirikan di lokasi bangunan yang diruntuhkan seperti di Indonesia. Itu pemubaziran, tapi juga pemusnahan nilai-nilai sejarah. Bangunan- bangunan tua tidak digusur tapi direhab sehingga persis seperti sebelumnya. Bahkan di Belgia saya Iihat penebangan pohon-pohon tak dilakukan, sehingga sebuah pembangunan jalan raya baru justru penambahan jalan layang di atas lokasi pabrik mobil Ford yang penuh pepohonan. Kenyataan-kenyataan itu sepertinya harus menjadi gagasan baru bagi kita di Indonesia, berhadapan dengan kesukaan kita main gusur bangunan serta main tebang pohon-pohon di mana-mana dengan lasan pembangunan.
Saya juga menyadari betapa miskinnya Indonesia tapi berhadapan pembengkakan jumlah penduduk yang luar biasa. Negeri Belanda yang kaya tak perlu membangun tambahan sekolah karena pertambahan penduduk yang nol persen per tahun. Tidak juga perumahan, dan Iain-lainnya.
Itu sekadar contoh kasus. Dan banyak lagi. Ada juga hal yang membuat saya kaget, yaitu kenyataan, bahwa ketika suatu hari saya pulang ke hotel, maka seorang perempuan Belanda ada di kamar saya. Saya pikir saya salah kamar. Eh, nyatanya ia melayani saya, sebab ia pelayan hotel yang membersihkan kamar saya.
Posisi kami masing-masing tak bisa diharapkan pernah terjadi di Indonesia di zaman penjajahan Belanda, kecuali dalam keadaan terbalik!
Selain itu tentu saya sudah melihat dengan mata kepala sendiri, merasakan suasana alam dan masyarakat negara-negara dan kota-kota yang saya lewati. Di Belanda, kami ke museum Van Gogh (pelukis). Saya juga ke Paris dan masuk museum yang mengoleksi berbagai benda bernilai tinggi bersama Ramadhan K.H.
000
Leave A Comment