SAYA bisa hancur kalau di Jakarta. Dan siapa tahu akan tergoda oleh gaya hidup orang-orang Jakarta. Barangkali saya membutuhkan mobil dan mengejar uang untuk itu. Ada orang menjual kepalanya, pantatnya, atau menjual temannya sendiri. Seorang penulis fiksi berbakat di Bukittinggi, misalnya, terpaksa menulis karya-karya murahan karena tuntutan kebutuhannya yang tinggi ketika sudah tinggal di Jakarta. Saya tak menyalahkan siapa-siapa, tingkat kebutuhan memang amat tinggi di Jakarta. Tapi saya tak berharap hidup seperti mereka. Kita di daerah tak terlibat hal-hal demikian.
Terlebih-lebih karena satu hal: saya akan kehilangan solidaritas dan komitmen sosial, saya takut hidup demikian. Maka izinkan saya menulis tentang kehidupan keluarga kami sebagai cerminan rasa syukur. Saya pengarang yang beristri wanita karier. Anak tujuh orang. Tingkat kebutuhan finansial di daerah relatif rendah. Karena itu banyak kesempatan untuk keterlibatan sosial, yaitu menggulati masalah-masalah yang hidup di tengah masyarakat. Saya membutuhkan cara hidup demikian. Memang keterlibatan sosial cendekiawan dan seniman di daerah lebih kuat. Itu karena tak bisa mengelak dan memang tak harus dielakkan. Lagi pula, lagi-lagi, karena tingkat kebutuhan di daerah tidaklah begitu tinggi.
Nampaknya sederhana. Tapi dalam kenyataan tak selalu demikian. Kami terpaksa menunda pembangunan rumah karena mengutamakan pendidikan anak-anak, misalnya. Ketika saya tak anggota DPRD lagi, pemasukan berkurang, maka saya kurangi keterlibatan sosial langsung: terpaksa saya mengundurkan diri memimpin Badan Wakaf INS Kayutanam.
Untuk ukuran kami, alhamdulillah, ternyata kami berhasil mengantarkan anak-anak pada pilihan pendidikan dan jalan hidup mereka masing-masing. Yaitu Dini Akbari (sarjana ekonomi) yang kini dengan keluarga di Semarang, Lusi Bebasari (sarjana biologi, Padang), Dedi Andika (sarjana peternakan, Padang), Lenggogeni (sarjana akuntansi, Jakarta), Gemala Ranti (sarjana sosiologi, Padang), Rinto Amanda (sarjana komunikasi massa, Semarang) dan Rika Anggraini (sarjana hubungan internasional, Jakarta). Kami malahan sudah punya 10 orang cucu.
Tak lama setelah saya menjadi ketua Badan Wakaf INS, maka Bustanil Arifin bertanya, berapa dana yang disisihkan untuk keperluan pribadi saya di INS. Ia menyediakan dana pendidikan untuk membiayai 50 orang siswa setiap bulan.
Saya katakan bahwa saya tak mengambil apa-apa. Itu karena kebutuhan INS saja sedemikian tinggi bahkan tak mencukupi. Kan tidak lucu kalau Ketua Badan Wakaf bergaji tinggi sedangkan rekan-rekan yang bekerja di lapangan gajinya rendah.
Akhirnya Bustanil mengambil kebijaksanaan sendiri. Ia menyisihkan sekadar dana per bulan buat saya pribadi, di luar anggaran Yayasan.
***
SAYA kagum pada sebuah keluarga di Tanah Tinggi, Jakarta, yang anaknya tujuh orang, jadi sarjana semua. Namanya Sutan Zeiruddin. Ia pejabat pertambangan, dan termasuk lingkungan keluarga besar istri saya. Kalau ia mau ikut musim, kaya raya dia.
Ia menolak membuka peluang borongan barang buat Departemen Pertambangan dan Energi. Ia akan dapat komisi besar asal mau memberi informasi bahan-bahan apa yang diperlukan Pertambangan dari luar negeri. Ia berpendirian anak-anak harus dihidupi dengan cara-cara hidup yang halal. Saya kagum karena di Jakarta anak-anaknya tak jadi berandalan. Malah jadi orang semua. Tamatan UI dan ITB. Ada dokter, insinyur, dan lain sebagainya. Ia berhasil mendidik anak-anaknya. Saya belajar banyak dalam hal ini padanya.
Kita kan tak suka anak-anak kita main kongkalingkong agar hidup sukses. Saya tak pernah cari uang dengan cara kongkalingkong, misalnya memanfaatkan persahabatan dengan pejabat. Saya tak suka memintakan proyek untuk suatu perusahaan dengan harapan agar dapat “komisi”, karena bersikap tak adil terhadap perusahaan-perusahaan lain.
Kami mengusahakan hidup dengan rezeki yang halal. Lalu mewariskannya kepada anak-anak. Kalau saya mendapat sejumlah uang banyak mendadak, maka saya jelaskan kepada anak-anak: “Ini honorarium buku anu.” Atau, “Ini diberi orang, semacam balas jasa, duduk soalnya begini….”
***
DALAM mengurus anak-anak, kami—saya dan istri saya—selalu berdiskusi jika ada masalah. Setelah dibahas bersama selalu ada jalan keluar yang baik. Misalnya ketika membuat rumah.
Kami pindah ke Padang tahun 1973. Kita belum punya rumah, anak-anak tujuh orang. Setiap istri saya meminta dibelikan tanah hanya karena harganya murah, saya tolak. Saya sadar bahwa lokasi yang tak baik menyebabkan anak-anak hidup di lingkungan yang kurang baik. Pilihan lokasi berarti pilihan lingkungan sosial yang ideal. Waktu dapat tanah di rumah kami sekarang, langsung dibeli—meskipun harganya relatif tinggi.
Meski saat itu saya anggota DPRD, tapi tidak mampu untuk membangun rumah. Rumah kami saya bangun dengan susah payah, dari uang tabungan. Dapat uang dari honor buku saya bangunkan fondasi rumah. Ada kelebihan uang setelah kembali dari Belanda saya lekatkan ke rumah. Ketika dapat pesangon karena berhenti jadi anggota DPRD Sumbar, saya bangunkan ke rumah.
Dalam proses pembangunan rumah, banyak hobi yang saya hentikan seperti tidak lagi menonton film, tidak lagi beli buku secara banyak. Dan yang tidak saya lakukan meminta fasilitas pada pemerintah, meski dalam bentuk sekecil apa pun misalnya meminjam oto pemerintah untuk membawa kasiak (pasir). Itu tidak saya lakukan.
Kami membangun rumah relatif besar agar anak-anak homely. Kalau perlu ia bisa membawa teman-temannya ke rumah. Bukan karena kami kaya. Biaya pembangunannya murah karena konstruksinya adalah konstruksi rumah orang Lubuk Alung. Fondasinya bahkan tak ada slof (beton bertulang). Karena itu kalau hari hujan maka air merembes dari tanah ke dinding.
Namun anak-anak kami libatkan dalam menciptakan suasana yang mereka ingini. Ya, agar mereka rasakan rumah mereka sendiri lalu jadi betah tinggal di rumah. Misalnya warna cat yang mereka maui apa dan bagaimana. Bahkan mereka mencat sendiri. Atau ketika istri saya menerima uang agak banyak kepada anak-anak ditanyakan: mau dibelikan apa? Televisi warna? Kami baru punya televisi hitam putih. Anak-anak yang tertua waktu—Dini dan Lusi yang masih di SMP—justru memilih dibelikan kulkas. Alasannya karena dengan memiliki kulkas mereka bisa mengawetkan sayur…. Juga soal sekolah mereka pilih sendiri. Bahkan urus sendiri. Misalnya sejak pendaftaran, dalam penyelesaian semua tetek bengek administrasi, dan seterusnya. Malahan Rika, minta melanjutkan sekolah ke Jawa. Sudah dipikir benar bisa hidup sendirian? kami tanya. Sudah, Ya boleh, pergilah. Begitulah. Maka sejak mencari pekerjaan sampai cari jodoh ia ambil keputusan sendiri. Padahal ia si bungsu, perempuan lagi.
Saya suka anak-anak yang bebas dan penuh inisiatif. Di Bukittinggi, ketika anak-anak masih kecil-kecil sekali, saya lebih suka membiarkan anak-anak melakukan apa yang mereka suka ketimbang menjaga rumah atau perabot rapi, dan bersih. Apa gunanya rumah dan perabot terjaga sedang jiwa anak-anak rusak karena terus kena marah dan kehilangan nyali? Apa saja boleh dilakukan anak-anak asal jangan keluar rumah. Lagi pula dengan demikian kan anak-anak tak mengganggu kerja saya mengarang. Kan lebih baik saya biarkan daripada marah-marah. Dan karangan saya siap. Mana lebih baik? Istri saya yang pulang kerja sampai kaget: anak-anak bawa ember dan main air di lantai, di bawah meja, di sekitar kaki saya yang…. tancap terus mengarang!
“Masya Allah…!” suara istri saya.
“Jangan takut nanti saya benahi kembali,” saya bilang.
Tapi tentunya ia sendiri yang membereskan kembali karena suaminya terus juga dengan rencana karangan yang baru.
Saya berusaha bersikap baik terhadap anak-anak dengan cara menghindari kebiasaan-kebiasaan orang tua-tua yang tak saya senangi di waktu kecil. Waktu kecil saya tak suka orang tua yang nyinyir, misalnya. Maka saya tidak nyinyir.
Kami berusaha memahami kebutuhan mereka. Kadangkala saya dan istri saya berbeda pendapat. Misalnya ketika Ranti mau ikut mendaki Gunung Merapi. Istri saya tak setuju sebab mungkin banyak bahayanya. Lagi pula sebagai anak perempuan apakah cukup kuat. Tapi istri saya akhirnya dapat saya yakinkan.
Tapi dalam keadaan lain, ada masanya saya bisa menolak keinginan anak-anak. Sekali waktu di malam Minggu, waktu kami masih mengontrak rumah di Padang, Dini dan Lusi diundang anak seorang pejabat tinggi untuk mengikuti pesta anak-anak muda.
Saya larang. Pertama karena saya tak suka anak-anak keluar malam. Dini dan Lusi yang sudah siap dengan pakaian pesta pada menangis karena dilarang.
Dini dan Lusi saya panggil untuk diberi penjelasan kenapa mereka dilarang mengikuti pesta. Antara Iain karena bisa terjadi berbagai kemungkinan yang tak diharapkan sejak mabuk-mabukan sampai kemungkinan pelecehan seksual.
Mulanya anak-anak itu diam saja tanpa komentar. Tapi besoknya, Senin sepulang sekolah, Dini dan Lusi menyatakan amat bersyukur karena dilarang mengikuti. Sebab yang terjadi dalam pesta itu justru seperti yang saya kawatirkan. Mereka bercerita bahwa teman-temannya pada menangis karena dalam pesta itu ada yang menjadi korban pelecehan seksual teman-teman prianya.
“Papi benar,” mereka bilang.
Ketika Dini mulai remaja maka saya membelikannya lipstik yang kualitasnya bagus. Juga anak-anak yang lain. Itu tetap dikenangkan ketika masing-masing sudah dewasa sebab ibunya hanya membelikan lipstik yang menurut mereka murahan.
Saya tahu, anak-anak pun tahu, ibu mereka lebih dulu memikirkan segala macam kebutuhan mereka. Tapi ada sisi lain dalam tindakan saya. Saya ingin menyatakan bahwa sebagai ayah saya paham mereka sudah remaja. Dan agar saya takkan menghalangi apa yang baik bagi anak saya yang meningkat remaja.
Yang paling membahagiakan adalah anak-anak mengatur adik-adiknya. Anak-anak perempuan rukun. Bahkan diminta agar pakaian jangan serupa supaya ganti pakai memakai nantinya.
***
ANTARA kami berdua, saya dan istri saya, ada masanya baru bertemu kembali ketika hari malam.
Tapi menjelang tidur kami saling cerita pengalaman masing-masing sehari itu. Bisa-bisa kami baru tertidur jauh malam karena asyiknya saling cerita dan mendengar.
Ini cara kami untuk saling membukakan diri. Dan kebiasaan begini menghindarkan kami dari fitnah dan cemburu.
Ada saatnya istri saya mendampingi saya ketika mengarang. Ia ikut membaca lembar per lembar. Kalau berkenaan dengan tokoh wanita, kadang-kadang dikritiknya. Maka kami mendiskusikannya. Tapi bagi saya sebenarnya tak perlu sampai demikian. Kalau saya lihat mimik mukanya sudah berubah-rubah karena tulisan-tulisan di kertas yang dibacanya maka itu adalah pertanda bahwa cerita yang saya tulis sudah mencapai dampak psikologis cerita yang saya harapkan…. Istri saya adalah kritikus naskah-naskah yang saya tulis. Saya tidak saja berterima kasih, malah bangga punya istri demikian.
***
ISTRI saya, orang sibuk. Profesinya sebagai bidan menyita waktunya, siang atau malam, menolong persalinan di samping kerja rutin di BKIA. Kadang-kadang memberi ceramah kesehatan ibu dan anak di desa-desa sekeliling Danau Maninjau yang tempatnya adakala di mesjid. Perginya dengan sepeda sampai sejauh 10 a 20 km pulang pergi.
Ketika menjabat Bidan Pengawas Kabupaten Agam di Bukittinggi, lalu Bidan Pengawas Propinsi Sumatera Barat di Padang, dia sering turne ke daerah. Adakalanya bermalam satu dua malam kalau jarak lokasi yang dikunjungi tak memungkinkan pulang pergi dalam sehari. Di samping itu dia pun menjadi pengurus organisasi Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Sumatera Barat.
Sebagai anggota pengurus IBI, dia ikut menjadi delegasi Indonesia pada Kongres Bidan Internasional di Lusanne, Swiss, pada tahun 1975. Pada kesempatan itu dia mengunjungi juga beberapa negara Eropa, seperti Prancis, Belanda, Italia dan Inggris.
Pada tahun 1976 Aksari pindah kerja ke BKKBN Sumatera Barat, kemudian ditetapkan menjadi Kepala Bagian Tata Usaha. Selama 10 tahun bertugas di BKKBN dia mengunjungi hampir seluruh Indonesia mengikuti rapat kerja instansi tersebut.
Pada tahun 1986 Aksari pensiun. Ada beberapa rumah sakit atau klinik swasta menawarkannya menjadi direktris. Saya tidak setuju pada tawaran tersebut oleh alasan tanggung jawab kerjanya siang dan malam untuk orang seusianya. Namun dia membutuhkan kesibukan, karena sudah lebih 30 tahun dia terbiasa kerja di luar rumah. Akhirnya dia dibawa menjadi Sekretaris Yayasan Jantung Utama Cabang Sumatera Barat. Selanjutnya juga menjadi pengurus PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) Sumatera Barat, yaitu organisasi isteri-isteri pegawai, meski dia sudah pensiun dan bukan isteri pegawai negeri. Dia ditarik NY. Zuraida, isteri Gubernur Hasan Basri Durin untuk ikut serta.
Nah, ikut di PKK ini, dia banyak jalan lagi ke daerah-daerah untuk memotivasi kegiatan PKK setempat. Tugas yang menyenangkan baginya. Saya juga senang karena dia punya kesibukan itu.
Sedangkan saya sendiri lebih banyak bekerja di rumah. Dan ini membaikkan pendidikan anak-anak kami. Karena ada di antara kami menunggui rumah dan menjaga anak-anak. Namun saya sering juga ke mana-mana menghadiri beragai seminar, lokakarya, konferensi atau kongres ke berbagai daerah atau negara.
Nah, setiap saya atau isteri bepergian, anak-anak selalu dengan bergurau meledek saya dengan mengatakan, papi mereka, selalu tercecer dari isteri saya, mami mereka. Karena mami mereka lebih banyak mengunjungi berbagai propinsi atau negara daripada saya. Bahkan 20 tahun lebih dahulu melakukan ibadah haji. Dia ke Mekkah pertama tahun 1974 sebagai petugas kesehatan haji.
Hanya empat kali kami bepergian bersama ke negara lain. Pertama ke Kuala Lumpur waktu saya menghadiri Konferensi Pengarang Asean tahun 1977. Kedua ke Belanda, AS, dan Jepang tahun 1989, waktu saya melakukan studi kepustakaan untuk menulis buku sejarah perjuangan rakyat Sumatera Barat. Ketiga ke Bangkok tahun 1992, waktu saya menerima SEA Write Award. Dan keempat waktu melakukan ibadah haji baru lalu.
Waktu di Kuala Lumpur isteri saya membayar “hutang” delegasi Indonesia pada panitia. Kisahnya begini. Pada resepsi penutupan di Hilton Hotel, yang dihadiri Menteri Tan Gazali Syafii, pada setiap delegasi diminta untuk baca puisi. Tiba giliran delegasi Indonesia, tidak ada yang bisa ikut. Karena tidak seorang pun yang penyair, Kami semua kelabakan. Oyik (Satyagraha Hurip) minta pendapat saya yang duduk di loge bersama ketua delegasi dan Menteri Gazali Syafii. Saya bilang: “Minta Uni-mu menyanyi.”
Lalu Oyik naik ke pentas. Pegang microfon. Lalu minta isteri saya naik ke pentas untuk menyanyi. Maka bernyanyilah dia, melagukan lagu Minang yang sentimental.
Applause ramai sekali dengan permintaan “tambuh” sebuah lagu lagi. Sekali lagi isteri saya menyanyi.
Pada resepsi perpisahan di Equator Hotel, Dr. Firdaus Abdullah atas nama pengunjung Malaysia, seperti “merengek-rengek” membujuk isteri saya agar bernyanyi lagi. Maka bayar hutang lagi dengan dua lagu. Saya pikir lunaslah hutang kami delegasi Indonesia. Tapi rupanya belum. Prof. Ismail Hussein, Ketua Gapena (Gabungan Penulis Nasional), minta saya dan Boen Oemarjati memberi ceramah kepada mahasiswanya di Universitas Malaya sebelum kami ke airport untuk pulang ke Indonesia. Habis kami memberi ceramah berganti-ganti, profesor itu minta isteri saya menyanyi lagi untuk mahasiswanya. Maka bernyanyi lagilah dia dengan dua lagu berturut-turut.
Lantas kata Boen Oemardjati pada saya: “Habis deh kita, Pak Navis. Ceramah kita ditelan lagu Bu Navis.”
Aksari memang gemar bernyanyi. Suaranya tinggi. Kalau dia lahir 30 tahun terkemudian, pastilah dia cuap-cuap juga di televisi, menurut banyak teman-teman yang sering mendengarnya bernyanyi. Tapi suaranya “suara amal”. Suaranya sering dilelang untuk menghimpun dana pembangunan BKIA di kampung-kampung selama dia bertugas sebagai pegawai Departemen Kesehatan. Bakatnya menurun kepada anak-anak kami. Itu pun laku juga “dijual” pada pertemuan amal. Yang berbakat mengarang, Lusi Bebasari. Dua cerpennya pernah dimuat di majalah Cemerlang waktu dia masih di SMA. Dedi Andika, adiknya, gemar menulis berbagai artikel untuk harian Singgalang.
***
MUSIM HAJI tahun 1994 saya dan istri saya, serta sejumlah teman, rupanya “mendapat panggilan Nabi Ibrahim”.
Di Mekkah saya berjumpa juga penyair Hamid Jabbar, yang sudah hilang suaranya…. Banyak memang misteri yang terjadi di Mekkah. Juga yang saya alami hanya gara-gara ngambek makan dan minum. Akibatnya istri saya yang repot dan kuatir. Lebih daripada kekuatirannya di Padang jika sewaktu-waktu saya melanggar program pantang merokok. Tapi tak pernah diucapkannya. Seringkali saya melanggar nasehat-nasehat medisnya perkara makan, gizi, dan kesehatan tubuh.
Soalnya selera saya kampungan. Hanya suka masakan Padang. Padahal cara makan yang sehat adalah bersikap seperti “kunci Inggris”, apa saja bisa di makan. Nasi, ubi kayu, lalap, kecap, fried chicken, korma, roti, makaroni, mie, dan seterusnya. Sebenarnya saya bisa juga apabila sudah amat kelaparan, tapi porsinya sedikit, di bawah takaran yang sehat.
Saya malah sampai sakit di Amerika. Juga jatuh sakit di Mina gara-gara mengabaikan nasehat istri saya agar banyak makan dan banyak minum. Tubuh saya disiram bergalon-galon air ketika dibaringkan di dalam tenda.
Ketika saya terbaring sakit di dalam tenda di Mina, sayup-sayup saya dengar istri saya mengeluh pada dokter, dr. Zulkarnain Agus MPH. Ia dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas yang bertugas sebagai dokter buat jemaah kloter Sumatera Barat, yang merawat saya dengan cermat.
“Ini juga yang Uni takutkan, Zul!” keluh istri saya. ”Kalau didesak-desak makan maka dikira bergaya perintah. Atau dipaksa. Itu pantangannya benar! Maka ia benar-benar ngambek makan, inilah akibatnya….”
Paling tidak dalam soal makan nampaknya saya tidak rasional. Barangkali juga kurang demokratis. Wallahu alam.
Semua itu hanya membuat saya tambah mensyukuri nikmat yang melimpahi keluarga kami. Semoga haji kami semua haji yang mabrur, Amin.
000
Leave A Comment