SAYA tidak lama jadi pegawai negeri. Syukur hanya tiga tahun (1952—1955). Kalau terlalu lama, tentulah ketularan penyakit mental pegawai negeri, mental pegawai kecil. Kita terpaksa dan terbiasa menyesuaikan diri dengan selera bos. Akibatnya kepribadian akan hilang.

Berhenti dari pegawai negeri gaji hilang tapi datang kemerdekaan. Saya bisa mengerjakan pekerjaan macam-macam. Dan saya bisa hidup dengan menulis dan berkarya.

Saya juga mengajar kerajinan dan menggambar di SKP Perwari. Jadinya malahan kian sibuk.

Lalu saya terima kenyataan sosial yang lain: bahwa setelah bukan pegawai negeri maka saya benar-benar lebih bebas memasuki lingkungan pergaulan yang lebih luas. Seakan-akan baru setelah saya berhenti jadi pegawai negeri, maka saya dipandang orang. Hal itu tak mungkin saya bayangkan sebelumnya. Sebagai pegawai kecil ada kenyataan dan perasaan dipandang sepele. Terutama oleh lingkungan masyarakat birokrasi yang mendominasi berbagai aktivitas.

Saya dilibatkan dan dipercaya dalam berbagai kepanitiaan, misalnya panitia Hari Pahlawan dan panitia Konperensi Pemuda Sumatera Tengah. Juga menjadi anggota panitia pembangunan Universitas Andalas (Fakultas Kedokteran) yang semula dibangun di kota Bukittinggi. Namun setelah bangunan selesai di Birugo, maka Fakultas Kedokteran Unand dipindahkan ke Padang.

***

SAHABAT saya Rustam Anwar, direktur penerbit Nusantara, suatu hari datang meminta naskah kumpulan cerita pendek saya. Lalu ia juga meminta saya untuk menjadi salah seorang reader sekaligus editor beberapa naskah buku karya sastra.

Maka mulai tahun 1956 PT Nusantara pun memasarkan buku-buku Seri Denai, antara Iain kumpulan cerita pendek saya Robohnya Surau Kami. Program Seri Denai adalah program penerbitan khusus buku-buku karya sastra dalam ukuran buku saku (pocket book).

Rustam Anwar kami kenal idealis. la sedia menerbitkan buku- buku untuk “proyek rugi” secara komersial, seperti menerbitkan buku-buku karya Mr. Mohamad Yamin. Buku-buku demikian diterbitkan terutama karena dorongan idealisme. Artinya penerbit sudah siap kalau buku demikian tidak laku, alias rugi. Maka saya tidaklah heran apabila ia mau menerbitkan buku-buku Seri Denai yang lebih bersifat prestisius ketimbang mendatangkan laba.

Alasan lainnya adalah bahwa percetakan PT Nusantara di Bukittinggi berkapasitas besar untuk ukuran waktu itu. Itu pulalah salah satu alasan kenapa Harian Nyata yang terbit tak lama sebelum pemberontakan PRRI, dicetak di sana.

Apa pun motivasinya, haruslah diakui bahwa penerbitan buku-buku Seri Denai memang tidak saja menambah jumlah buku karya sastra Indonesia melainkan juga buku-buku berkualitas.

Saya hanya diminta menjadi reader beberapa naskah dan sama sekali bukan editor atau staf organik pada Penerbit PT Nusantara. Yang saya baca naskah NH Dini, Dua Dunia dan Hati Yang Damai. Lalu naskah Motinggo Boesye, kumpulan cerpen Keberanian Manusia. Seingat saya kualitas buku-buku itu mendapat sambutan baik dari kritikus sastra dan merupakan debut kepengarangan N.H. Dini dan Motinggo Boesye yang meyakinkan di dunia sastra. Sebagai reader saya tak melakukan apa-apa karena naskah-naskah itu memang baik. Meskipun begitu saya menganjurkan agar Boesje mempertimbangkan beberapa kata atau ungkapan supaya lebih pas. Selebihnya adalah pilihan Anas Makruf di Jakarta, diatur oleh Anwar Sutan Saidi—Presiden Direktur Penerbit Nusantara.

Penerbit Nusantara menerbitkan empat buku saya, yaitu tiga kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami, Hujan Panas dan Bianglala, lalu novel Kemarau.

Dua buku kumpulan cerpen Soewardi Idris mengenai pemberontakan PRRI terbit pula di bawah judul Di Luar Dugaan dan Isteri Seorang Sahabat. Setelah beredar maka datang banyak protes, terutama dari para pendukung PRRI. Akibatnya semua sisa buku yang ada Ialu dibakar saja! Tentang sikap massa Islam yang suka reaktif begini, akan saya ulas di bagian lain sebab saya pun mengalaminya.

Dalam perkembangannya kemudian terkesan seakan Penerbit Nusantara kurang selektif. Ya, asal menerbitkan buku Seri Denai saja. Lama kemudian baru saya dengar alasannya sesuai dengan perkembangan ekonomi. Bahwa makin banyak buku terbit maka sebuah penerbit konon akan lebih banyak mendapat jatah kertas. Apakah kemudian penerbitan buku-buku sastra Penerbit Nusantara seakan-akan hanya memburu jatah kertas, saya tidak persis tahu.

Buku-buku karya sastra lainnya yang diterbitkan dalam Seri Denai antara lain Malam Bimbang (kumpulan cerpen Ali Audah), Lukisan Dinding (kumpulan cerpen M. Alwan Tafsiri), Pesta Menghela Kayu (kumpulan cerpen Dt. B. Nurdin Jakub), dan banyak lagi. Nusantara juga menerbitkan di luar Seri Denai buku Tidak Menyerah (novel Mottinggo Busye), Di Balik Pagar Kawat Berduri (novel Trisnojuwono) dan Midah, Si Manis Bergigi Emas (novel, 1956) karya Pramoedya Ananta Toer.

Adalah sayang sekali bahwa program penerbitan buku-buku sastra dan nonsastra PT Nusantara lenyap begitu saja. Karena alasan-alasan yang bersifat bisnis maka percetakan Nusantara di Bukittinggi dijual kepada Pemda Sumatera Barat. Maka Penerbit Nusantara tak berbicara lagi. Dan entah kenapa kebangkrutan pun terjadi pada penerbit penting lainnya. Cetak ulang buku-buku saya kemudian dialihkan ke penerbit lain seperti Penerbit Jembatan, Gramedia, dan lain-lainnya.

Berkaitan dengan penerbitan buku-buku umum dan buku-buku sastra Seri Denai oleh Penerbit Nusantara masih ada yang ingin saya tambahkan. Karena buku-buku terbaik Seri Denai memberikan kontribusi yang berarti dalam perkembangan kesusastraan Indonesia, juga buku-buku nonsastranya dan sudah menjadi sejarah maka kenyataan itu menjadi kerinduan bagi terwujudnya semacam desentralisasi penerbitan buku-buku bermutu. Suatu hal yang dewasa ini nampak sehat buat Bandung atau Yogya, tapi sebaliknya buat Sumatera Barat.

Kemudian saya pernah aktif dalam usaha penerbitan buku oleh Penerbit PT Genta Singgalang Press di Padang tahun 1986 dan 1987 tapi baru menerbitkan dua buku yaitu Dilektika Minangkabau dalam Kemelut Sosial dan Politik, Padang Kota Tercinta, dan Simpanan Bajapuik.

***

SEJAK tahun 1950 saya sudah sering mengisi acara RRI Bukittinggi. Saya menyampaikan Pidato Radio, yaitu rubrik kesenian dan kebudayaan yang diudarakan. Itu sangat menolong saya menguasai teknik mengarang. Dan sejak tahun 1955 saya mengisi banyak acara di sana, di samping berfungsi sebagai semacam staf ahli tidak bergaji.

Sebagaimana saya singgung sebelumnya saya juga menulis kritik atau artikel tentang kesenian Minangkabau di koran Haluan Padang. Kritik itu mengakibatkan orang RRI menantang saya: bagaimana sebetulnya kesenian Minangkabau itu?

Saya jawab tantangan itu. Sekali waktu saya coba membentuk suatu orkes musik Minangkabau tradisional. Yakni ketika ada acara saluang dan rabab di RRI Bukittinggi. Para pemainnya saya kumpulkan, tujuh orang semua. Lalu, saya atur untuk memainkan musik secara bersama-sama; ada yang main gendang, main saluang, rebab atau talempong. Sebelumnya musik tradisional Minangkabau dimainkan secara sendiri-sendiri, sebagai pengiring tukang dendang.

Konsep itu saya coba beberapa tahun di RRI Bukittinggi. Namun tidak bisa diterima semua orang. Apalagi setelah konsep itu diterapkan pula untuk mengiringkan tari yang biasanya memakai alat musik Barat. Mereka yang sudah sekolah dan terbiasa dengan kriteria kesenian Barat, tidak bisa menerima apa yang saya lakukan itu. Malah saya mendapat ancaman hendak dipukul guru tari grup bersangkutan.

Eksperimen seperti yang saya lakukan itu dalam cara lain tercermin dalam orkes simfoni Minangkabau garapan Achyar Adam yang didukung mahasiswa-mahasiswa ASKI Padangpanjang dewasa ini. Meskipun saya pernah jadi dosen di sana untuk mata kuliah sosiologi Minangkabau, saya tidak mengatakan bahwa Achyar meneruskan ide-ide saya. Semenjak itu, tari-tarian Minangkabau telah diiringi oleh instrumen-instrumen musik tradisional Minangkabau.

Salah satu acara tetap yang saya selenggarakan di RRI Bukittinggi adalah acara pembacaan puisi anak-anak muda. Saya kumpulkan anak-anak muda, antara Iain Nasrul Siddik (sekarang Pemimpin Redaksi Mingguan Canang, Padang), Rusli Marzuki Saria (penyair dan kini wartawan Harian Haluan, Padang), M. Dahnil Ilyas—kini redaktur berita TV RI di Jakarta, dan Iain-lain. Mereka membaca puisi di corong radio dan saya memberikan komentar. Tapi tidak selalu. Adakalanya mereka saya beri kesempatan membuat komentar. Acara itu banyak peminatnya. Karena banyak peminat maka saya membentuk Himpunan Penyair Muda. Himpunan itu bubar karena meletusnya pemberontakan PRRI.

Acara lainnya menyelenggarakan sandiwara radio. Di samping penulis naskah, saya juga sutradara dan pemain. Bahasa Indonesia pada salah satu sandiwara radio itu, semacam bahasa Indonesia Minangkabau. Lucu dan menggelikan dan menjadi favorit pendengar RRI Bukittinggi.

Karena saya lebih sering mengisi acara di RRI Bukittinggi maka saya kenal tidak saja dengan Kepala Studionya Anwar Nurin serta pegawai-pegawainya. Saya juga kenal pengisi rubrik-rubrik Iainnya seperti Nila Kusuma yang mengisi acara penyuluhan wanita dan Aksari Jasin, seorang bidan, yang menyelenggarakan penyuluhan kesehatan ibu dan anak.

Aksari malahan saya ikutkan main dalam sandiwara-sandiwara radio. Tak kurang dari sepuluh sandiwara radio. Untuk Aksari hal itu baik untuk memantapkan teknik vokal bagi programnya sendiri, yaitu memberikan penyuluhan kesejahteraan Ibu dan Anak lewat RRI. Waktu itu ia Kepala Sekolah Pendidikan Pengunjung Rumah, yang akan bertugas memberi penyuluhan di desa.

Tidak itu saja. Kami, saya dan Aksari Jasin, malah kecantol satu sama lain. Intuisi dan pergaulan kami yang tak begitu panjang meyakinkan saya bahwa Aksari adalah gadis yang tepat untuk pasangan hidup saya.

Saya menikah dengan Aksari pada tanggal 6 Januari 1957. Pernikahan kami boleh dikata tanpa didahului dengan pacaran. Malah, sejak awal sudah saya bilang, pacaran boleh tapi untuk kawin. Kalau tidak untuk menikah, tidak usah. Dasar jodoh, masing-masing setuju. Setelah tiga atau empat bulan, langsung menikah. Pacaran pakai rayuan “oh bulan oh bintang”, tidak pandai saya.

Aksari adalah cucu seorang jaksa. Lahir di Painan, Pesisir Selatan sebagai anak kelima dari 12 saudara. la menamatkan HIS di negeri asalnya Pariaman. Pada zaman Jepang ia pindah ke Padang dan sekolah di SMP namun di zaman revolusi sekolah itu bubar dan ia keluar tanpa ijazah. Hanya berbekal surat keterangan Kepala SMP itu, sesudah Penyerahan Kedaulatan, Aksari masuk Sekolah Bidan Budi Kemuliaan, Jakarta. Tiga tahun lamanya dan tamat sebagai siswa terbaik.

Waktu itu para tamatan Sekolah Bidan bisa memilih daerah tempat bekerja yang disukainya. Tetapi Aksari ditunjuk langsung ke Sumatera Barat. Padahal sebenarnya ia tidak ingin pulang ke daerah asalnya karena masih muda, ingin berkelana dulu. Rupanya ia dipilih langsung adalah untuk menggantikan Bidan Senior di RSU Bukittinggi yang dikirim pemerintah ke Belanda. Itu tahun 1954.

Sesampai di Sumatera Barat, Departemen Kesehatan setempat tidak dapat menerima anak baru tamat sekolah bidan langsung menduduki jabatan menggantikan bidan senior. Mungkin dianggap tidak mampu. Aksari tersinggung tapi tak ada gunanya. Aksari malah ditunjuk menjadi Pimpinan Sekolah Kesehatan Pengunjung Rumah (sekolah bantuan UNICEF) di Bukittinggi—yakni sekolah yang mencetak tenaga penerangan dan penyuluhan kesehatan bagi masyarakat.

Dua tahun lamanya Aksari jadi kepala sekolah kesehatan itu. Namun karena ingin praktek sebagai bidan sesuai dengan pendidikan yang diperoleh, ia minta berhenti sekaligus minta pindah sebagai Kepala BKIA di Maninjau. Namun ia masih bertanggung jawab menyelenggarakan siaran penyuluhan kesehatan di RRI Bukittinggi.

Jadi pernikahan kami berlangsung ketika Aksari baru saja memimpin BKIA Maninjau. Acara pernikahan kami secara tradisional berlangsung di rumah orang tuanya di Pariaman.

***

DALAM dua tahun pertama bertugas di Maninjau, Aksari masih bolak-balik ke Bukittinggi untuk mengisi acara kesehatan di RRI.

Setelah menikah, maka saya yang bolak-balik antara Maninjau-Bukittinggi untuk mengajar di SKP Perwari dan mengisi acara di RRI. Jaraknya kurang lebih 30 kilometer.

Menjelang PRRI meletus anak pertama kami, Dini Akbari, lahir pada tanggal 2 Desember 1957 di Bukittinggi.

Sekali di Maninjau datang kaum keluarga istri saya dari Pariaman berhubung Dini sudah lahir. Salah seorang mereka seperti biasanya orang Minang bertanya kepada Aksari tentang diri saya: “Dima karajo minantu awak? (Di mana kerja menantu kami?)”

Dijawab isteri saya: “Wek-e karajo di radio, RRI Bukittinggi! (Ia bekerja di radio, RRI Bukittinggi!)”

Saya pengarang dan bukanlah pegawai RRI namun dibilang begitu. Menurut istri saya, “Ya, agar mereka tidak banyak tanya!” Orang awak kan memang tak menimbulkan masalah bagi keluarganya sendiri tapi kan suka usil juga.

Tapi kedua orang tua Aksari memang tidak banyak tanya. Itu karena mertua perempuan saya yang dulunya isteri jaksa, menurut Aksari seorang penyanyi dan karena itu mengerti seniman.

000