WAKTU saya lebih banyak disita oleh tugas-tugas lain, antara lain melanjutkan kembali eksistensi INS sampai dewasa ini.
Setelah Engku Sjafei meninggal, Engku Abdul Hamid yang menggantikannya sebagai pemimpin umum sekolah dan Badan Wakaf. Saya ditunjuk menjadi Ketua Badan Wakaf yang tugasnya melakukan rehabilitasi pembangunan fisik. Itu pada tahun 1969, di saat Indonesia ketiadaan dana pembangunan setelah kebangkrutan ekonomi sehabis Trikora dan Dwikora. Tapi juga diliputi suasana awal pemerintahan Orde Baru di mana terbuka harapan masyarakat Indonesia akan terwujudnya proses demokratisasi serta pembangunan ekonomi dalam arti kata sebenarnya.
Pada zaman penjajahan Belanda dulu, ada yayasan donasi di Negeri Belanda yang menawarkan diri membantu pengembangan pendidikan INS. Namun ditolak Engku Sjafei, dengan cara halus:
“Kapan-kapan nanti, kalau kami membutuhkan maka kami akan memberi tahu!”
Puluhan tahun niat yayasan Belanda itu terbenam begitu saja. Lagi pula Indonesia kemudian jatuh ke bawah pendudukan militer Jepang, selanjutnya menyatakan merdeka dan berperang melawan Belanda yang ingin kembali menjajah.
Barulah ketika Engku Sjafei tahun 1967 membangun kembali INS Kayutanam yang sudah rata dengan tanah maka ia teringat kembali pada janji Belanda tersebut. Novib menyatakan kesediaan untuk membangun kembali sarana fisik INS Kayutanam. Engku Sjafei tak melihat turunnya dana Novib itu karena ia sudah dipanggil Tuhan. Tapi ia dengan bantuan masyarakat Kayutanam sudah berhasil membangun dua Iokal ruang akademis beratap seng, dindingnya papan susun sirih, serta sebuah bangunan beratap daun rumbia dan lantai tanah untuk workshop keramik dan anyaman.
Untuk menutupi kebutuhan dana rutin dan sebagian rehabilitasi kampus INS, saya memprakarsai pembukaan Dompet Amal koran Aman Makmur. Saya juga membuka Pasar Keramaian. Namun hasil yang didapat dari Pasar Keramaian itu ditolak Engku Hamid karena ada permainan yang berunsur judi. Sekian lama uang itu tersimpan saja di bank CCB Padang. Setiap Engku Hamid butuh uang maka saya tawarkan uang itu. Selalu ditolak, sampai saat terakhir, artinya sampai Engku Hamid terpaksa menggunakan uang Pasar Keramaian itu. Beliau berkata:
“Kalau tak ada yang Iain, yah apa boleh buat. Babi pun boleh dimakan kalau terpaksa!”
Seperti biasanya suatu badan amal, Novib tidaklah membangun INS, melainkan membantu pembangunan yang diprakarsai INS sendiri. Maka salah satu persyaratannya agar dapat bantuan adalah bahwa INS harus menunjukkan sendiri kemampuannya dalam membangun. Setelah Engku Sjafei meninggal maka hal itu dikerjakan oleh Badan Wakaf, di samping harus mengusahakan dana untuk keperluan rutin pelaksanaan pendidikan. Banyak teman yang turun tangan. Tapi bantuan terbesar saya terima dari Hasjim Ning dan Amran Boer. Dengan awal pencarian dana demikianlah persyaratan bantuan Novib dilakukan. Kemudian INS juga mendapat bantuan dari Pemda Sumatera Barat. Juga dari Presiden RI.
Kekurangan dana rutin dapat ditutupi dengan bantuan Pemda, juga dari sumbangan Boestanil Arifin, alumnus INS yang kebetulan Kepala Bulog, mulai dengan angka Rp 500.000 per bulan dan terus meningkat sampai sekarang.
Bantuan Novib tahap pertama kemudian dikirimkan meIalui Yayasan Penyantun yang berkedudukan di Jakarta. Namun bantuan selanjutnyua langsung disalurkan kepada Badan Wakaf yang mengelola sekolah tersebut.
Meskipun sudah ada Badan Wakaf, pihak Yayasan Penyantun di Jakarta tidak mau begitu saja menyerahkan mandat penerimaan bantuan Novib. Sebenarnya tidak mengapa. Akan tetapi yayasan itu telah terpengaruh oleh pola budaya sentralistis yang memandang orang daerah adalah bawahan. Kami, Engku Hamid dan saya tidak mau diperlakukan demikian. Maka Engku Hamid minta campur tangan M. Natsir. Selanjutnya Natsir minta bantuan Mr. Mohammad Roem, karena ia yang lebih dekat dengan pihak Belanda. Setahun kemudian, bantuan Novib langsung disalurkan pada Badan Wakaf.
Reaksi Ketua Umum Yayasan Penyantun ialah menyebarkan isu bahwa Engku Abdul Hamid orang Masyumi, anak buah M. Natsir. Di mata pemerintah pada masa itu, orang-orang eks Masyumi adalah masih musuh negara yang dicurigai. Jadi tuduhan terhadap Engku Hamid adalah berat, hampir sama halnya dengan menuduh seseorang adalah anggota PKI. Mengapa Ketua yayasan itu sampai berbuat demikian, tali rebablah yang akan menyampaikannya.
Setahu saya Engku Hamid memang dekat dengan M. Natsir, juga Mr. Mohammad Roem. Hal itu disebabkan mereka dulu sama-sama anggota Jong Islamitten Bond (JIB), jadi sama-sama murid H. Agus Salim. Tapi Engku Hamid bukan anggota Masyumi.
***
SAYA menjadi Ketua Badan Wakaf sampai tahun 1984. Yakni ketika saya masih anggota DPRD Sumatera Barat dengan “gaji” Rp 450.000 sebulan. Meskipun kami harus menyekolahkan tujuh anak kami sendiri, namun biaya untuk bolak balik mengurus INS antara Padang-Kayutanam tidaklah menjadi masalah.
Tapi sejak tahun 1984 saya tak jadi anggota DPRD dan tidak menerima lagi honor. Mobilitas menurun sebab saya tak punya biaya untuk bolak balik ke Kayutanam dan harus cari uang untuk menutup biaya rumah tangga kami. Saya bilang kepada Engku Hamid bahwa saya mengundurkan diri dari jabatan ketua Badan Wakaf.
Engku Hamid menahan saya dengan menawarkan jalan keluar, begini:
“Ambillah Rp 250.000 per bulan dari dana yang ada.”
Waktu itu Engku Hamid sudah tinggal di Jakarta karena kesehatannya telah sangat menurun.
Dengan tegas saya tolak. Bagaimana mungkin? Kalau saya ambil, mana lagi untuk gaji guru-guru yang jauh lebih kecil itu? Bagaimana saya bisa didengar mereka?
Demikianlah saya mengundurkan diri dari Badan Wakaf. Sepuluh tahun saya berhenti. Sementara itu secara fisik pembangunan sekolah itu sudah sangat luar biasa atas usaha Boestanil Arifin.
Namun INS kucar kacir lagi karena atas kehendak Tuhan, Engku Hamid pun meninggal dunia. Ini suatu kehilangan besar lagi bagi keluarga besar INS.
Saya teringat waktu kota Bukittinggi baru saja diduduki APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia), banyak penduduknya yang menghindar ke luar kota. Di antaranya Engku Hamid, guru Bahasa Inggris saya di INS.
Waktu kami bertemu di Lawang—sebuah desa dekat Matur—ketika masih di bawah kekuasaan PRRI, saya mendapat kesan beliau tidak persis tahu mau ke mana. Lalu saya mengajak beliau tinggal bersama saya di Maninjau.
Selama dua tahun di Maninjau, Engku Hamid mengisi waktunya dengan mengajar Bahasa Inggris pada banyak peminat di rumah saya. Saya dan isteri mengambil kesempatan juga tentunya.
Kemudian APRI sudah sering beroperasi ke Maninjau sehingga desa itu pun ditinggalkan oleh tokoh-tokoh PRRI yang mengungsi ke Lubuk Basung. Saya mencegah Engku Hamid ikut pula ke Lubuk Basung karena beliau bukanlah siapa-siapa dalam tubuh PRRI.
Pada waktu Maninjau telah dikuasai dan diduduki APRI sepenuhnya, saya dan isteri saya menyetujui keinginan Engku Hamid pulang ke Bukittinggi.
Tapi setelah beberapa bulan di rumahnya, beliau diambil APRI lalu dipenjarakan. Mula-mula di Bukittinggi, kemudian di Padang Panjang. Lebih setahun beliau di penjara.
Setelah dibebaskan saya menanyakan kesan-kesannya. Dengan bangga Engku Hamid berkata:
“Berkali-kali saya khatam Quran, juga membaca terjemahannya!”
Kemudian beliau pindah ke Dumai, Riau. Menjadi guru sekolah, khusus untuk anak-anak Amerika yang menjadi tenaga kerja pertambangan minyak Caltex. Begitu Engku Sjafei meninggal, Engku Hamid langsung terjun memimpin perguruan INS Kayutanam, meninggalkan sekolah di Dumai yang membayarnya dengan gaji besar.
Bertahun-tahun Engku Hamid mengorbankan kehidupan pribadinya semata-mata karena kecintaan dan tanggung jawabnya kepada INS. Salah satu masa yang paling sulit adalah ketika kami bersama-sama bergulat untuk kembali mengangkat citra INS seraya membangun kampus. Selama kepemimpinan Engku Hamid, Badan Wakaf membangun antara lain gedung permanen dengan lima lokal ruang belajar akademis, enam workshop, sebuah kupel rumah guru, sebuah guest house dan dua asrama semi permanen.
Setelah itu diwujudkanlah bantuan pembangunan fisik dengan dana Novib, dua workshop untuk praktek pertukangan kayu—baik secara manual maupun mekanikal, pemasangan mesin diesel untuk penerangan listrik, sejumlah rumah guru, asrama siswa, kantin, ruang untuk praktek menggambar, dan lain-lainnya.
Sepeninggal Engku Hamid maka dicarilah pengganti beliau. Dipilih Prof.Dr. Dahnil Kamars dari IKIP Padang, tapi ia ajukan anggaran Rp 1 milyar untuk penambahan bangunan dan biaya operasional. Siapa yang mampu mencari dana sebesar itu? Maka masalah INS pun tergenang dua tahun.
Oleh Bustanil ditunjuk salah seorang sarjana lainnya. Dia pun mengajukan anggaran sekitar Rp 1 milyar. Sementara itu kondisi INS semakin memprihatinkan. Saya tidak tahan menyaksikannya.
***
SUATU hari dalam perjalanan dinas terakhir sebagai menteri, Bustanil Arifin singgah di Sumatera Barat. Lewat secarik kertas di Lapangan Terbang Tabing saya sengaja memintanya agar membicarakan soal INS kepada Gubernur Sumatera Barat.
“Surat apa ini?” ia bertanya.
“Bacalah dalam pesawat!” jawab saya.
Rupanya sebelum pesawat berangkat sudah ada reaksi Bustanil. la langsung mendisposisi surat saya itu untuk ditujukan kepada Gubernur Sumatera Barat Hasan Basri Durin, isinya kira-kira begini: “Tolong di-tackle, Pak Gub!” Dan pesawat pun terbang.
Lalu Gubernur bilang kepada saya, “Nah, ini urusan kakanda ini! Kakanda yang lebih tahu.”
Itulah sebabnya saya kembali menjadi pengurus Badan Wakaf INS walaupun sebenarnya saya lebih ingin memimpin bagian pendidikannya. Saya rasa Gubernur menginginkan seorang pakar untuk menjalankan pendidikan di INS. Maka saya ajukan nama Prof. Nur Anas Djamil dan Gubernur langsung setuju. Juga Bustanil.
Dengan demikian terjadilah pemisahan antara bagian pendidikan dan Badan Wakaf.
Ternyata Prof. Nur Anas Djamil tak bisa saya bantu. Hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa sang pakar tidak memahami konsep pendidikan INS. la ingin menjadikannya sebagai “sekolah unggul” model SMA Soposurung di Balige, Sumatera Utara. Padahal Pemerintah Daerah Sumatera Barat dan Bustanil Arifin sebagai penyandang dana menginginkan INS Kayutanam menjalankan fungsi pendidikan yang cocok dengan tradisinya, dengan program pengentasan kemiskinan desa.
Inilah problematika aktual yang dihadapi INS Kayutanam. Mau terus dengan konsep pendidikannya sendiri, yah, ternyata konsepnya itu tak banyak dipahami sebagai relevan—juga di kalangan pakar-pakar pendidikan.
Berdasarkan pengalaman, seorang pakar pendidikan dari perguruan tinggi—apalagi kalau tak biasa menjadi pimpinan, tidak otomatis mampu mengelola sekolah tingkat SMA. Apalagi untuk SMA Plus seperti INS Kayutanam. Di perguruan tinggi para dosen memberi kuliah tentang disiplin ilmu pengetahuannya sendiri dan menurut silabus kurikulum yang tersedia. Apa pun perilaku mahasiswa, mau malas, mau ugal-ugalan, bukan urusan dosen. Akan tetapi seorang guru di sekolah rendah sampai tingkat atas, apalagi kepala sekolah, fungsi terpenting yang dikerjakannya ialah mendidik siswa agar menjadi siswa yang berkepribadian ideal, pintar, berdisiplin, dan bermoral tinggi. Perilaku siswa yang kompleks adalah cerminan kepribadiannya yang merupakan salah satu hal terpenting yang harus diperhatikan dan dikembangkan, sedangkan kurikulum dan silabus hanyalah alat.
Para pakar, bukannya tidak ada yang mampu menjadi pendidik. Namun bukan main sulitnya mencari pakar demikian di zaman ini.
Khusus bagi INS Kayutanam, syukurlah senantiasa ada badan-badan atau lembaga-lembaga yang bersedia memahami nilai dan kesulitan setiap idealisme, lalu turun tangan membantu INS. Baik dari Pemda Sumatera Barat, Departemen Tenaga Kerja, serta orang-orang muda yang bersemangat untuk memahami dan menjalankan konsep INS Kayutanam. Tentu saja dengan berbagai penyesuaian dengan kondisi zaman. Misalnya Wisran Hadi, di samping banyak alumni lainnya. INS berusaha meneruskan tradisi idiologi pendidikannya, termasuk menyelaraskan dirinya dengan kebutuhan zaman agar siswa-siswanya kelak bisa mandiri, eksis dengan ilmu, etos kerja dan kreativitas yang tinggi.
Maka buat sementara, sampai ditemukan seorang pimpinan yang tepat, sayalah yang memikul tanggung jawab pendidikan di sekolah itu. Memang capek untuk umur setua saya sekarang. Namun menyenangkan melihat kegairahan tenaga pengajar yang berdedikasi tinggi untuk menaikkan citra sekolah itu.
000
Leave A Comment