A.A. Navis

Bertanya Kerbau Pada Pedati

 

KERBAU pernah punya arti spesial dalam hidupku pada suatu masa. Tapi bukan karena jadi mitos dalam cerita “Cindur tMato” yang mengisahkan seekor kerbau keramat bernama Binuang, yang dalam telinganya bersarang lebah berbisa yang bila dikehendaki Cindur Mato lebah-lebah itu akan memantak penyamunn yang menghadang perjalanan.

Bukan, bukan karena itu yang menyebabkan kerbau pernah punya arti spesial dalam hidupku. Bukan karena mitos Iain, yang mengisahkan tentang kalah perangnya panglima Jawa melawan Datuk nan Baduo, oleh sebab kalah taruhan adu kerbau. Taruhan mereka bukan main-main. Kalau panglima Jawa menang, ia boleh menjajah negeri Datuk nan Daduo. Tapi kalau kalah, ia harus angkat kaki dengan seluruh pasukannya. Dalam aduan itu, panglima Jawa menampilkan kerbau yang berdepa panjang tanduknya, karena sangking besarnya. Datuk nan Baduo menampilkan anak kerbau yang lagi sarat menyusu. Ketika aduan mulai, masing-masing kerbau dilepas ke tengah padang. Maka anak kerbau yang telah tiga hari tidak menyusu itu, serta merta menyerbu ke kerampang kerbau besar itu untuk menyusu. Karena di moncong anak kerbau itu telah dipasang taji besar yang tajam sekali, tak urung terbusai-busailah isi perut kerbau besar ditusuk-tusuk oleh taji itu. Setelah lari ke mana-mana, akhirnya nafasnya habis bersama jiwanya yang melayang.

Maka kalahlah taruhan panglima Jawa. Lalu kembalilah ia pulang dengan tangan hampa. Sedangkan Datuk nan Baduo yaitu Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih nan Sebatang yang menang karena banyak akalnya, akhirnya menamakan negerinya dengan memakai peristiwa itu. Yaitu Manang Kabau, yang lambat laun menjadi Minangkabau. Dan semenjak itu, konon, kerbau yang dalam bahasa setempat disebut kabau, menjadi binatang yang dikeramatkan. Kepala kerbau panglima Jawa itu ditanam di tanah sebagai -penangkal agar penglima Jawa tidak akan datang-datang lagi dengan maksud untuk menjarah. Kepala kerbau pun ditanam pada pangkal setiap bangunan agar bangunan itu selamat dari bencana.

Atau digantungkan di bagian rumah, agar rumah itu selamat pula dari mara bahaya. Rumah gadang diberi beratap melengkung seperti tanduk kerbau. Dan pemilik rumah itu, perempuan melipat selendang kebesarannya hingga berbentuk tanduk, dan selendang itu dinamakan tengkuluk tanduk. Bila terjadi musibah, misalnya terlanggar pantang adat, si pelanggar didenda dengan sebuah kepala kerbau, atau menjamu orang sebagai tanda tobat dengan menyembelih seekor kerbau. Untuk kenduri sebuah pesta besar, misalnya menobatkan penghulu, perlu seekor kerbau direbahkan dan dagingnya dilapah. Pihak bako, yaitu kerabat ayah, dari seorang penganten akan memberikan seekor kerbau sebazai suatu tanda kebesaran, dan kerbau itu diarak dengan telempong setelah diberi pakaian serba kuning.

Bukan, bukan karena mitos aduan kerbau itu dengan segala pertanda kebesaran itu yang menyebabkan kerbau pernah punya arti spesial dalam hidupku.

Meski mitos itu dipercaya dan diagung-agungkan sampai kini, namun kalau aku dimaki orang sebagai kerbau, rasanya aku mau jadi macan supaya bisa menerkam orang itu. Berbeda dengan mitos, binatang kerbau dipandang sebagai binatang bodoh. Binatang yang rendah mutunya. Meski tenaganya kuat untuk membajak dan menarik pedati, daya tahannya segera turun disengat matahari. Jadi kalah dari sapi. Isteri-isteri lebih suka menggulai daging sapi ketimbang daging kerbau untuk suami tersayang. Dan restoran akan segera bangkrut kalau menggunakan daging kerbau. Dan kulit kerbau tidak dipakai untuk sepatu, selain untuk solnya. Dan kalau dibuat kerupuk, tak laku dijual. Namun susunya, Allahurabbi enaknya, apabila diasamkan. Labih enak dari joghur. Apalagi kalau diberi bertengguli gula aren. Dadih namanya.

Bukan, bukan karena itu yang menyebabkan kerbau pernah punya arti spesial dalam hidupku. Arti spesial kerbau dalam hidupku, karena ia sering Ialu lintas di hadapan mataku. Waktu itu masa perang kemerdekaan. Ayahku membuka warung sebagai pengganti lapangan hidup yang selama ini tidak menolong lagi. Letak warung ayah di tepi jalan raya di pendakian yang panjang. Persis di pinggang pendakian itu.

Setiap pagi dan sore, bila aku tak punya urusan, aku ikut membantu ayah di warung. Membersih-bersih atau membungkus-bungkus jualan. Biasanya aku suka mengerjakannya di teras. Supaya, sambil kerja, mataku bisa meliar-liar melihat orang Ialu-lalang di jalan raya. Tentu saja sebagairorang muda, yang paling menarik mataku melihat anak-anak gadis. Apalagi anak gadis di kotaku banyak yang cantik-cantik. Namun akhirnya yang paling menggoda pikiranku ialah pedati dan kerbau yang lewat.

Pada perang kemerdekaan pedati menjadi alat transpor yang vital. Tentu saja bukan untuk mengangkut orang, apalagi pasukan yang akan berangkat ke front. Melainkan barang-barang perdagangan. Seperti sayur, minyak goreng sabun, atau daun rumbia dan Iain-Iain. Umumnya pedati itu milik penduduk pesisir. Maka dari tempat asalnya mereka mengangkut kelapa, minyak goreng, garam, sabun yang sodanya dari abu pelepah kelapa, atap daun rumbia, arang batok. Dari kotaku mereka mengangkut sayuran, kapur tembok, tadir bambu untuk dinding rumah. Jadi, pulang-pergi pedati itu selalu terisi. Semuanya bahan-bahan yeng telah dipesan langganan di kedua tempat yang dikunjunginya.

Jalan pedati itu lamban sekali. Maklum kerbau yang menariknya. Jara antara tempat asalnya dengan kotaku ditempuh dalam sehari semalam. Mereka berjalan beriringan antara 10 sampai 20 pedati dengan cara berkonvoi-konvoian. Setiap konvoi berasal dari desa yang berbeda di pesisir. Dari pesisir ke kotaku jalannya mendaki. Separoh perjalanan pendakian kian terjal dan berliku di lereng-lereng bukit. Pendakian panjang dan paling terjal di Lembah Anai. Para kusir, yang ditempatku disebut tukang pedati, menggiring pedatinya dengan ekstra berat. Roda-roda pedati dibantu memutarnya oleh rekan-rekannya secara bergantian. Di tempat perhentian yang berjarak 3 a 4 jam perjalanan kerbau dilepaskan dari kalamya untuk makan dan memamah biak. Terutama di waktu matahari terik masa istirahatnya lebih panjang. Di tempat perhentian itu selalu ada lepau. Tapi perhentian yang disukai, yaitu yang halamannya sejuk. Bukan hanya terlindung dari sinar matahari, juga oleh karena tanahnya lembab. Dan biasanya perhentian itu selalu di dekat ada air mengalir.

Oleh karena perjalanan pulang pergi yang dibutuhkan sampai 3 hari, tukang pedati itu ada kalanya membawa isterinya ikut. Tapi biasanya yang dibawa ialah isteri muda yang baru dinikahi. Jadinya perjalanan itu semacam perjalanan bulan madu mereka. Jika isteri ikut, langkan pedati yang biasanya digunakan sebagai tempat duduk atau tidur selama perjalanan itu, dihiasi dengan kain seperti gorden yang norak warnanya. Kasur dan bantal pun dibawa. Alas dan sarungnya dari kain berwarna yang disuji dengan bunga-bungaan motivnya. Tepi sarung bantal biasanya di beri renda pula. Maka jadilah langkan pedati itu menyerupai ranjang tidur penganten.

Aku tidak tahu, bagaimana romantisnya kehidupan pasangan penganten baru itu di atas pedatinya. Dan juga aku tidak tahu, bagaimana meriahnya suasana konvoi itu. Namun aku bisa mengkhayalkannya macam-macam. Setidaknya peristiwa itu tentulah akan merangsang hati tukang pedati Iainnya untuk menikah lagi dengan georang gadis atau dengan seorang janda muda. Tidak jarang aku Iihat pada setiap konvoi yang lewat di depan warung ayah, ada perempuan seperti itu. Biasanya bibir perempuan itu merah oleh sirih, semerah kukunya yang kena inai, sebagai pertanda penganten baru. Tontonan seperti itu, bisa menarik kesimpulan dalam khayalku, bahwa tukang pedati termasuk favorit juga di kampung asalnya masing-masing pada masa itu.

Konvoi pedati dari pesisir lewat di depan warung ayah selalu pada waktu yang tetap. Sore sehari sebelum pasar atau pagi pada hari pasar. Kembalinya sore pada hari pasar atau pagi sehari sudah

pasar. Hari pasar di kotaku dua kali seminggu. Senin dan Jumat. Jadinya, pedati yang tiba sore, kembalinya besok paginya. Yang tiba pagi, kembali sorenya. Dan setiap lewat, bagaimana pun mataku terpaksa menyangkut pada kurenah tukang pedati, kerbaunya dan juga pedati itu gendiri. Tipe tukang pedati itu khas. Wajahnya ada yang klimis tapi ada juga yang kumisnya panjang. Di kepalanya selalu tertutup topi sebo. Yang terbikin dari kain bulu tebal, seperti topi pemain ski es. Yang bisa digulung ke atas dan dilepaskan ke bawah sehingga bisa menutup seluruh kepala dengan hanya matanya saja yang terbuka. Wajah mereka seperti bringas kelihatannya. Setidak-tidaknya bila lewat di depan warung ayah.

Pakaiannya model baju cina dan celanya gelembong seperti celana pemain silat. Dan ikat pinggangnya lebar yang bersaku-saku. Dan setiap saku punya tutup yang berkancing jepit. Kaki nya beralas dari bahan ban mobil bekas dan diikat dengan karet ban dalam. Muatan pedati itu biasanya sarat. Kadang-kadang melebihi ruang badannya. Sehingga bagian atapnya dijongkangkan seperti kap mobil yang buka ketika kerusakan mesin. Tapi biasanya muatan seperti itu terdiri dari atap daun rumbia. Dan pada umumnya setiap pedati dari pesisir membawa atap rumbia sebagai beban tambahan. Ditambatkan di langkan belakangnya. Ada kalanya juga, di langkan belakang ditambatkan sedrum minyak kelapa. Dan apabila di langkan belakang ditambatkan sedrum minyak kelapa, maka tukang pedati itu akan duduk di bum pedati, yaitu pada kayu panjang yang jadi cantelan ke kuduk kerbau. Maksudnya duduk di situ, ialah untuk menjaga keseimbangan berat, pada jalan yang mendaki.

Setiap datang dari pesisir, setiap pedati akan berhenti beberapa saat di depan warung ayah. Bukan untuk beristirahat atau tukang pedati itu mau membeli sesuatu di warung ayah. Tidak, tidak itu alasannya. Kerbau itu berhenti karena buang kotoran, berak. Sebaliknya bila mereka pulang ke pesisir, mereka lewat saja dengan tenang-tenang. Tapi sambil jalan kerbau itu terkencing-kencing. Berak dan kencing selalu saja di depan warung ayah, ketika aku sedang membantu membersih-bersih atau membungkus-bungkus jualan. Jadinya, kerbau-kerbau itu selalu melakukannya di depan hidungku. Dan karenanya hidungkulah yang paling sering diterpa baunya.

Sungguh aku begitu dongkol, karena kenapa mereka hanya selalu melakukannya di depan warung ayah? Apakah tidak ada tempat Iain yang sepi? Apakah itu maunya tukang pedati? Kalau maunya, tentang apa mereka tidak menyukai kami, sehingga binatangnya harus membuang kotoran di situ? Pada hal kami tidak pernah mengganggu mereka yang lewat.

Beruntunglah kotaku kota penghujan, sehingga kotoran dan bau yang ditinggalkan kerbau-kerbau itu dibersihkan secara alamiah saja. Tapi kalau tidak pada musim penghujan? Setidaknya kotoran kerbau itu sering menimbulkan kecelakaan yang menyakitkan bagi yang terkena, tapi menimbulkan tawa bagi yang melihatnya. Peristiwa kecelakaan itu terjadinya sering malam. Sejak zaman pendudukan Jepang, jalan-jalan di kotaku sudah terbiasa bergelap-gelap di malam hari, karena listrik tidak dinyalakan di tiang-tiangnya, baik karena kekurangan strum atau karena bolanya tidak dapat diganti kalau sudah putus atau dicuri orang. Maklumlah dalam zaman perang. Bentuk kecelakaan itu lazimnya tai-tai kerbau itu ibarat ranjau darat di tengah jalan, sehingga sering bertabrakan dengan kaki orang yang lewat. Dan selalu saja ada teriakan, kalau kecelakaan itu terjadi. Tentu saja gaya teriakan itu macam-macam. Bayangkan kalau kecelakaan itu menimpa perjaka yang mau bertandang ke rumah pacarnya, atau sepasang anak muda yang baru akan keluar malam.

Aku dongkol, bukan karena kecelakaan itu. Melainkan kenapa justru di depan warung ayah kerbau-kerbau itu memilih kakusnya.

Sekali aku ikut membantu tukang gerobak memunggah barang-barang yang baru dibeli ibu. Segoni beras aku gotong berdua dengan tukang gerobak itu. Bukan main beratnya, sehingga aku seperti orang menghejankan berak. Dan nafasku ngos-ngosan. Bahkan masih ngos-ngosan beberapa lamanya setelah beras itu ditaruh di teras warung. Dalam terkapar duduk di bangku untuk meredakan ngos-ngosan nafasku, aku ingat pada ngos-ngosan kerbau yang lewat di depan warung. Aku pikir, berat beras yang kugotong berdua tentulah sama kualitasnya dengan berat muatan pedati itu. Bahkan mungkin lebih berat lagi. Kalau aku hanya sampai menghejan berak tapi tak pernah keluar, namun kerbau-kerbau itu sampai mengeluarkan berak. Maka pastilah muatan yang sangat berat itu akan berganda di jalan pendakian. Secara berangsur, sehabis ngos-ngosan nafasku, dongkolku pada kerbau-kerbau yang berak di depan warung pun lenyap. Malah sebaliknya kini, aku jatuh hiba ketika aku membayangkan betapa panjangnya pendakian dan berapa banyaknya yang sudah dilaluinya.

Setiap konvoi pedati itu datang dan pergi, terberak-berak dan terkencing-kencing di depan warung ayah, aku kian merasakan penderitaan binatang itu. Kepalanya tak terangkat, hingga moncongnya hampir menyentuh aspal jalan yang telah banyak terkelupas itu. Nafasnya mendengus-dengus menanjaki pendakian yang panjang. Dan ketika berhenti tepat di depan warung, aku melihat matanya memerah seperti urat-urat darahnya mau memecah. Dan matanya liar, seperti mencari-cari cara bisa melepaskan kelasa kayu yang menekan pundaknya. Jika kerbau itu lama tertegak setelah beraknya terpancar, tukang pedati itu segera menarik tali ijuk yang keras di dekat hidung binatang itu. Mungkin karena rasa sakit di hidung itu ia meneruskan perjalanannya lagi menarik pedati yang sarat beban itu.

“Mengapa ia tidak membiarkan kerbau itu berhenti sejenak lagi, supaya tenaganya pulih untuk melewati pendakian yang masih panjang?” tanya hatiku. Atau kadang-kadang hatiku menyoal, kenapa tukang pedati itu tidak mengurangkan barang sedikit berat bebannya? “Karena serakah,” teriak hatiku yang gemas.

Bila aku melihat seorang perempuan muda duduk berjuntai di langkan pedati, di bawah tirai kain yang norak warnanya, dan merekah senyum bibirya yang merah karena sirih, sambil melirik aku dengan matanya yang jeli, tidak lagi membangkitkan rasa senang di hatiku. Aku lebih tertarik pada mata kerbau yang merah urat-urat darahnya, liar pandangannya, hidungny yang mendengus-dengus karena nafasnya yang ngos-ngosan, serta pada buih kental yang mengalir dari mulutnya. Hatiku hiba setiap memandang kerbau-kerbau yang lewat itu. Dan dalam khayalku, andai kata tidak ada ampas makanan yang dikeluarkannya dari duburya, tentulah ususnya yang akan keluar waktu menarik pedati yang sarat di pendakian yang panjang ini.

Aku kira, aku menjadi tidak normal melihat kesengsaraan binatang itu.

Aku tidak bisa menghindar lagi untuk tidak melihatnya lewat. Akan tetapi bila aku punya kesibukan Iain, dan tak dapat membantu ayah seperti biasanya, serasa ada suatu kekurangan dalam hidupku, oleh karena tidak bisa melihat binatang itu dengan segala penderitaannya. Seperti telah ada kontak batin antara aku dengan mereka. Dan bahkan seperti dapat membaca pikirannya, kalau mereka punya, melalui matanya yang memandang padaku.

Sekali senja ketika konvoi i tu lewat lagi di depan warung ayah, selagi aku mengerjakan pekerjaan rutinku membantu ayah, aku seperti mendengar kerbau itu berkata-kata. Tak jelas apa yang dikatakannya. Tapi lambat laun memperhatikan mereka lewat, apa yang dikatakannya makin jelas. Yaitu suatu pertanyaan. Pertanyaan yang sama oleh kerbau yang lagi menarik pedati di pendakian yang panjang itu. Pertanyaan yang sama ke arah yang sama. Tapi tak ada pertanyaan itu yang berjawab. Pertanyaan itu selalu terdengar setelah kerbau itu memancarkan beraknya di depanku. “Wahai pedati, masih jauhkah pendakian ini?”

Memang tak ada jawab. Karena tempat bertanya benda mati yang telah ditukangi dan dibentuk menurut pola-pola yang tetap. Ya, senantiasa tak ada jawaban. Dan akan selamanya pertanyaan itu tidak mendapat jawaban.

Selalu pertanyaan yang sama ditujukan kepada alamat yang sama. Dan selalu tak ada jawabannya.

Sesungguhnya aku bisa menjawabnya. Tapi apakah bahasaku mereka pahami? Sudah pasti tidak bisa mereka pahami. Akan tetapi karena pertanyaan itu terus dimajukan kepada pedati setiap habis berak di depanku, menyebabkan aku gemas kepada pedati itu. “Jawablah,” kataku. Tapi pedati tak hendak menjawabnya.

Karena setiap konvoi itu lewat, dan peristiwa yang sama berlanjut terus, serta aku pun selalu menyuruh pedati itu menjawab, malah dengan bentakan, aku dengar juga akhirnya suara pedati itu. Tapi ia pun bertanya: “Wahai muatan, kerbau bertanya masih jauhkah pendakian ini?”

Tentu saja muatan tidak bisa menjawab, sebab mereka bukan pedati dan juga bukan kerbau. Tapi kebisuan itu membuat aku gundah juga pada muatan. Lalu aku berteriak padanya, karena setiap muatan dalam setiap pedati selalu saja membisu. “Jawablah,” kataku membentak juga.

Karena berulang-ulang berlaku, setiap mereka lewat aku membentak muatan, setiap kerbau bertanya kepada pedati dan pedati bertanya lagi pada muatan, kudengar juga muatan itu bertanya pada tukang pedate: “Wahai tukang pedati, kerbau bertanya: masih jauhkah pendakian ini?”

Akan tetapi tukang pedati yang duduk berjuntai di langkan itu seperti bertelinga pekak. la tak perduli sama sekali. Konvoi pedati itu lewat. Pertanyaan terus lewat. Hari-hari pun lewat. Dan tukang pedati tak pernah menjawab. Aku kini naik pitam. Lalu aku membentak: “Jawablah.”

Aku lakukan berulang-ulang, setiap mereka lewat, setiap pertanyaan beranting di sampaikan. Dan selalu aku membentak pula. Maka akhirnya, karena kerbau nyinyir bertanya kepada pedati, pedati kepada muatan, dan muatan nyinyir pula meneruskan kepada tukang pedati dan aku terus menerus membentak menyuruh tukang pedati menyawab, akhirnya aku dengar tukang pedati itu berkata: “Huss. Kau nyinyir amat. Kalau sedang di atas, diam-diam sajalah. Kan bukang engkau yang payah?”

Aku marah mendengarkan jawaban itu. Tapi muatan itu begitu tololnya, sama tololnya dengan pedati. Karena apa jawaban tukang pedati itu disampaikan persis. Dan ketika jawaban itu sampai ke kerbau, kerbau memandang dengan sinar mata yang sulit aku baca.

Zaman itu zaman revolusi, zaman perang kemerdekaan, dimana aku terlibat. Maka tidak ada suatu alternatif Iain dalam pikiranku, bahwa hanya pemberontakanlah yang akan dapat mengatasi siksaan. Demi melihat kerbau itu begitu tersiksanya, dengan marah akuberteriak: “Kalau kau manusia, berontaklah.”

Tapi kerbau itu berjalan terus setelah dipukul-pukul pantatnya dengan cemeti. Namun kemudian baru aku sadar behwa teriakanku salah alamat. Karena kerbau itu bukan manusia, melainkan kerbau. Mestinya, yang kuteriakkan: “Kalau kau kerbau, berontaklah.”

Pada hari yang lain, peristiwa yang sama terjadi Iagi. Malahan lebih parah keadaannya. Pedati yang begitu berat muatannya, betu-betul tidak mampu dihela kerbau itu pada pendakian yang panjang depan warung ayahku. Dua orang tukang pedati memutar roda dengan mendorong jari-jarinya. Tukang pedati yang Iain, dudu di kayu dekat tenhku kerbau itu untuk memelihara keseimbangan. Sehingga kepala kerbau itu kian tertekur dan mulutnya nyaris menyentuh aspal. Busa dari mulutnya sampai berjatuhan. Dan dengusannya menyentak-nyentak sampai ke jantungku. Sedang pemiliknya, melecut pantat kerbau itu terus menerus dengan rasa berang.

Padahal kalau tukang pedati itu mempunyai perasaan kemanusiaan, sedikit saja sudah cukup, ia tak perlu sampai menyiksa demikian rupa. Ia turunkan saja drum minyak kelapa di emperan belakang, segalanya akan beres. Tapi ia lebih suka menyiksa binatang yang bodoh itu, dari pada payah-payah membongkar drum berisi minya kelapa itu.

Dan dengusan yang keluar dari hidung kerbau itu kian menyentak, malah kini tajam menghujam dalam jantungku. Aku tok bisa berpikir Iain lagi. Lalu aku berteriak kuatkuat dan sepanjang nafasku: “Berontaaaaak.”

Peristiwa itu begitu cepat terjadinya. Tak sempat mataku merekam dengan sempurna. Kerbau itu terlepas dari kungkungan di lehernya. Pedati terjongkang kebelakang. Muatannya berserakan. Dan drum yang berisi minya kelapa di emperan belakang terlepas dari ikatan, menggulir ke arah kerbau yang Iain di belokangnya. Dan kerbau itu terkejut dan mendompak seperti kuda. Rotan yang dianyam menyangga lehernya terlepas. Dan kerbau itu pun lari pula menyebar ke arah kerbau pertama lari. Dan peristiwa itu berantai terjadinya pada semua pedati yang di pendakian itu. Hingga sepenuh jalan pendakian itu penuh oleh barang yang berserakan pedati yang berjongkangan. Bahkan seorang isteri muda yang baru menikah, yang bibirnya merah oloh sirih, semerah kukunya yang berinai, menjerit-jerit di kolong pedati yang terjongkang itu.

Namun suaminya yang semalam telah membelainya penuh nafsu di atas pedati sambil berjalan, telah pergi memburu kerbaunya yang berontak. mungkin jadi dalam pikiran tukang pedati itu, menangkap kerbau yang berontak lebih menjamin kelangsungan hidup. Sedang isteri muda yang ditimpa bencana, akan mudah dicari penggantinya.

000

Padang, 1985