MANUSIA YANG AMAT KRITIS

 

NAVIS memang sejak tingkat SD menjadi murid INS. Sedangkan saya masuk INS pada zaman Jepang pada tingkat lanjutan. Tapi sebelumnya saya sudah kenal dia, lebih-lebih dengan saudara sepupunya Ramudin.

Kami bertemu di Sekolah Merapi tahun 1935, semacam HIS swasta yang dipimpin Chatib Sulaiman, Dahlin Junus dan Maridin. Saya bersekolah di sana. Sekolah ini di samping menjalankan program pengajaran HIS, juga bekerja sama dengan INS Kayutanam membangun dan mengembangkan pendidikan kerajinan dan kesenian.

Anak-anak INS diminta jadi guru oleh Engku Sjafei. Dari merekalah untuk pertama kalinya kami mengenal pekerjaan tangan, melukis. Lalu musik. Saya sendiri belajar musik di Merapi dari Engku Maridin dan Junus Kocek, keduanya murid Chatib Sulaiman dalam hal musik.

Sebuah orkes dibentuk dengan anggota-anggotanya adalah gabungan siswa-siswa INS dan sekolah Merapi. Saya ikut. Di sanalah saya berkenalan dengan Navis. Lalu kami sama-sama main musik. Kalau tak salah alat musik yang dimainkan Navis adalah flute.

Sejak itu, melihat banyaknya kepandaiannya dan menariknya pelajaran anak-anak INS Kayutanam, saya pun tertarik untuk menjadi siswa INS. Maka setamat sekolah Merapi saya pun masuk INS di tingkat lanjutan.

Kemudian tahun 1947 Mohammad Sjafei membangun Gedung Kebudayaan di Padang Panjang. Dibentuklah orkes simfoni. Kami main dalam orkes simfoni dengan dirigen Pak Wakidi.

Dalam saat itulah pergaulan kami bertambah akrab.

***

KEMUDIAN di zaman revolusi kemerdekaan Navis pindah ke Bukittinggi.

Navis pelukis dan pematung? Tentu saja. Maklumlah setiap anak INS kerjanya melukis atau bertukang. Bahkan saya pun pernah melukis juga, salah satunya dikirim ke Jepang entah dalam rangka apa saya sudah lupa.

Yang saya dengar, di Bukittinggi Navis mengurus sanggar Arca lalu sanggar SEMI. Niscaya ia melukis dan membuat patung. Tapi saya rasa ia tidaklah menonjol sebagai pelukis atau pematung.

Setelah Agresi I orang-orang Sumatera Utara pada mengungsi ke Sumatera Barat, termasuk A. Chalik seorang konduktor, dirigen musik dan Lily Suheiry. Dan dibuatlah sebuah orkes simfoni tahun 1948. Kami sama ikut main dalam orkes simfoni ini dengan konduktor A. Chalik ini.

Setelah saya kembali dari luar negeri, Navis bekerja sebagai pegawai negeri di Jawatan Kebudayaan Sumatera Tengah di bawah pimpinan A. Chalik.

Kalau dalam memainkan simfoni di bawah konduktor A. Chalik segalanya berjalan baik, namun saya dengar Navis tak serasi dengan gaya kepemimpinan orang yang sama di Kantor Jawatan Kebudayaan Propinsi Sumatera Tengah. Juga sebaliknya. Tapi bukan A. Chalik yang memecat Navis, sebab menurut senda gurau meriah di kalangan teman-teman, justru “Navis memecat Pak Chalik”. Bagaimana caranya? Ya, artinya keluar begitu saja dari Jawatan Kebudayaan.

Segera debut Navis di gelanggang kesusastraan Indonesia tampil amat meyakinkan dengan cerpennya ‘Robohnya Surau Kami’ yang langsung memenangkan Hadiah Sastra Majalah Kisah yang dipimpin H.B. Jassin.

Ketika pemberontakan PRRI terjadi, saya ikut menyandang bedil, berontak. Saya bertemu dengan Navis di Maninjau dan langsung diundang makan.

Seusai PRRI saya masuk kota. Lalu ketika Navis sudah menetap di Bukittinggi kami pun sering bersama-sama. Juga bersama Roestam Anwar, Direktur Penerbit NV Nusantara, yang menyebutnya sebagai “Pak Kantor” sebab Navis menulis novel Pak Kantor di Harian Nyata menjelang meletusnya PRRI.

Tak lama saya pun pindah ke Jakarta.

Hoeriah Adam pun hijrah pula ke Jakarta memperluas wawasan dan mengembangkan kemampuan kreatifnya. Di belakang Hoeriah adalah dukungan sponsor Roestam Anwar dan rangsangan pemikiran A.A. Navis. Tanpa melupakan jasa banyak tokoh Iainnya, kedua orang ini amat berjasa dalam pembentukan seorang Hoeriah. Kami sekeluarga amat berterima kasih atas dukungannya terhadap Hoeriah Adam.

Atas permintaan banyak orang maka saya kembali ke Padangpanjang untuk memimpin ASKI Jurusan Minangkabau di Padangpanjang. Saya dibantu banyak teman, antara Iain Miral Manan, Chairul Harun, dan tentu saja A.A. Navis—yang mengajar sosiologi Minangkabau.

Maka kami, antara lain bersama Drs. Abrar, M. Hasbi, M.Zahar, kembali bersama-sama. Kami membentuk Forum Cendekiawan Sumatera Barat yang berpusat di Bukittinggi. Itu sebelum terbentuknya ikatan cendekiawan yang disebut Padang Club.

Hubungan kami menurut pandangan orang-orang lain teramat dekat, sehingga ada orang yang kurang enak melihatnya. Termasuk konon Gubernur Harun Zain.

Sejak itu boleh dikata kami tak pernah berpisah-pisah. Kenapa?

***

NAVIS adalah seorang yang memikirkan bukan untuk dirinya sendiri. Bahkan ketika baru-baru ini Navis mendapat kesempatan menunaikan rukun Islam naik haji, pengalaman dan nikmat yang diperolehnya di Tanah Suci tidaklah untuk dirinya sendiri. Sebab Navis pun lalu giat membuat serial tulisan tentang pengalamannya naik haji di Harian Singgalang, Padang, yang tentu saja akan dibukukan.

Yang dipikirkannya adalah suatu cita-cita bersama. Cita-cita itulah yang membentuk komitmen antara kami, komitmen kebersamaam. Tegasnya komitmen kemasyarakatan. Getaran dalam diri kami sama untuk suatu cita-cita bersama.

Ketika Engku Sjafei meninggal, Navislah yang memikirkan INS. Juga setelah Engku Hamid meninggal. Saya setuju dan sejalan dengan gagasan dan itikad baik Navis.

Belum pernah saya merasakan bahwa aktivitas yang diprakarsai Navis hanya untuk kepentingan pribadinya.

Karena itu saya senantiasa dengan ikhlas membantunya. Misalnya kalau suatu ketika Navis meminta kami main musik—maksud saya bersama Irsjad Adam, Achyar Adam, Murad—langsung saya setuju. Apakah dalam rangka pembangunan kembali INS atau untuk program lainnya.

***

KAMI dipertemukan oleh cita-cita dan itikad baik. Namun dalam pelaksanaan berbagai gagasan, rencana atau program, saya tak selalu mampu mengikuti Navis. Kalau perlu Navis bahkan akan terjun kepala, terjun total. Sebab pantangannya bekerja setengah-setengah.

Saya bukan manusia yang suka terjun kepala, yang—dalam kasus saya—disebabkan oleh kecendrungan saya yang lebih menyukai dan lebih serasi dengan cara-cara yang lain. Lagi pula dalam hal-hal tertentu saya tak sepercaya diri Navis. Tapi saya senantiasa mendukung cita-cita yang dikampanyekan Navis. Sampai sekarang.

Menurut penilaian saya—mungkin penilaian saya salah—ia terlalu percaya diri. Kadangkala terlampau yakin. Itulah kelebihannya. Tapi eksesnya juga ada: kadangkala ia sepertinya tak begitu perlu mendengar orang lain. Kalau dirasanya perlu bahkan Navis takkan mengelakkan kemungkinan terlibat clash terbuka dengan orang Iain, melainkan berupaya memenangkannya dengan cara-cara yang fair.

Kalau Navis bergairah terhadap suatu gagasan atau menghadapi suatu masalah maka ia pun siap untuk proses berikutnya. Navis pun bergairah, punya kemauan untuk menjadi pelaksana. Boleh jadi ini watak umum jebolan INS yang spesifik.

Seperti umumnya alumus INS, Navis memang tidak hanya bergairah dengan gagasan-gagasan, atau wawasan yang bersifat intelektual, tetapi juga terhadap hal-hal yang bersifat praktis. Mereka tidak merasa hina melakukan pekerjaan fisik seperti bertukang, malahan sebaliknya. Ekstremnya dalam tingkat tertentu bisa saja mereka tak tertarik terhadap gagasan atau rencana yang tak bisa secara harfiah diwujudkan dalam kenyataan. Melahirkan gagasan dan rencana saja seolah belum cukup bagi umumnya alumni INS. Mereka pun ingin dan berkemauan kuat untuk mewujudkannya sendiri. Dan, sepertinya merasa lebih terhormat karena demikian.

Karena itu eksistensi Navis banyak sisinya, sejak dari sisi gagasan atau perencanaan yang bersifat kreatif, sisi pelaksanaan yang berkaitan dengan kadar kepemimpinan dengan perangkat manajemen berupa piranti keras dan piranti lunaknya, sisi monitoring dan evaluasi yang bersifat kritis, dan seterusnya.

Karena itu sumbangan atau keberhasilan Navis tak dapat diukur secara matematis. Jadi sulit misalnya bagi kita mengukur sumbangannya dalam keterlibatannya pada Gebu Minang yang berpusat di Jakarta. Di DPRD, dunia kebudayaan, dan seterusnya. Sumbangannya yang abadi tentulah dari karya sastra terbaik seperti ‘Robohnya Surau Kami’ yang konon bersifat klasik itu.

A.A. Navis amat menghormati orang dan pribadi yang tekun dan bersunguh-sungguh, apalagi kalau mencapai prestasi yang tinggi. Tentunya karena Navis sendiri adalah pekerja keras dan sungguh-sungguh. Sebaliknya ia seperti kurang puas jika bekerja sama dengan orang yang menurut penilaiannya bekerja setengah-setengah.

Janganlah dilupakan bahwa A.A. Navis adalah manusia yang amat kritis. la terlalu kritis untuk bisa diperalat atau dipermainkan orang dan tak mau diperlakukan demikian. Karena itu ia senantiasa berada pada posisi bebas.

Sikap kritis itu dipakainya untuk memperbaiki keadaan. Dalam keadaan demikian tak ada masalah atau lingkungan yang luput dari pandangan kritisnya. Kelebihan sikap kritis Navis adalah karena ia tak sungkan-sungkan mengutarakannya secara telanjang. Kritik Navis menyakitkan tapi saya kira senantiasa diperlukan.

Untuk Sumatera Barat, kritik Navis tak ada tandingannya dan niscaya banyak maknanya meskipun sulit mengungkapkan makna-makna itu. Bagi saya, makna kritik Navis dan peran kepeloporannya dalam banyak hal tak bisa dihilangkan dari sejarah.

Merenungkan kepeloporannya di banyak bidang, kritikkritiknya yang tanpa pamrih dan kadangkala jadi bumerang, pergulatannya agar senantiasa dalam posisi yang bebas, tentulah amat inspiratif kalau bukan membuat kita malu dengan diri sendiri. Itu lebih baik daripada melihat kekurangan-kekurangannya.

000