SEGI LAIN DARI A.A. NAVIS

(tentang biografi dan otobiografi)

 

TIDAK banyak orang tahu, bahwa A.A. Navis, pengarang kesohor cerita “Robohnya Surau Kami”, pernah menampung cerita riwayat hidup seseorang dengan telaten dan menuliskannya dengan rapi dan menarik. la berhasil membantu pengusaha terkenal Hasjim Ning—yang kebetulan famili dekatnya juga—mengabadikan otobiografinya dalam buku setebal 412 halaman yang diterbitkan pada tahun 1986. Cetakan revisinya yang saya temukan terjadi pada tahun berikutnya. Apakah setelah itu buku itu dicetak ulang lagi, tak jelas bagi saya. Yang pasti adalah bahwa buku yang diterbitkan oleh Grafiti itu baik, menarik dan lancar, kaya dengan informasi mengenai masyarakat Padang.

Bahwa kita patut angkat jempol untuk buku ini, itu pasti. Berkat kelincahan Navis menuliskannya, maka buku ini terasa hidup. Dan dengan ini kita diberi tambahan pengetahuan mengenai segi lain dari kehidupan bangsa kita, melalui seseorang yang pernah mencapai puncaknya di sektor ekonomi dan perdagangan, sampai-sampai si tokoh mendapat julukan “Raja Mobil, Henry Ford Indonesia”.

***

PENGALAMAN pribadi saya dalam membaca buku ini membuka kenangan semasa kecil. Terhampar hijau sejuk kebun teh di kaki Gunung Gede, di tengah-tengah Cianjur dan Puncak, semasa sebelum Perang Dunia II. Nama-nama yang dipaparkan Hasjim Ning dan sampai kepada kita lewat pena Navis, terkenal buat saya. Pada waktu itulah saya sering mendengar nama-nama Blommestein, hoofdadministrateur perkebunan Bingawati, Dr. P. Honig, ahli di bidang teh dan king, dari percakapan ayah saya sebagai pamong praja dan kakak-kakak saya yang sempat bekerja di perkebunan teh dan kina pula. Dan Aoh K. Hadimadja bersama adik-adiknya sempat bercerita tentang Hasjim Ning yang bekerja di perkebunan Bingawati itu. Saya cuma sempat nguping waktu itu. Maklum, umur saya terpaut 11 tahun dari Hasjim Ning.

Ayah, kakak-kakak yang saya ceritakan di atas, sekarang sudah tiada. Gembiralah hendaknya H. Hasjim Ning (beserta keluarga—termasuk A.A Navis) berumur panjang, dan sempat meninggalkan buku yang berarti dan bagus, berkat bantuan sepupunya, A.A. Navis.

Waktu saya masih kecil, tak pernah saya bertemu muka dengan orang yang ditokohkan oleh Navis itu. Baru di pertemuan melayat adik saya—dari pihak istrinya—lr. Bermawi yang sempat bekerja di perusahaan mobil Hasjim Ning, dan sama-sama mengantarkan jenazah itu ke kuburan di Pemakaman Karet, saya melihat wajahnya dari dekat. Itulah perkenalan saya dengan Hasjim Ning. Lewat bukunya yang menarik, maka saya jadi tahu akan lika-liku hidupnya, terutama perjuangannya di bidang yang sesuai dengan panggilan hidupnya.

***

BAGAIMANA sampai Navis menuliskan riwayat hidup seseorang—dan satu kali Angku ini menggoreskan penanya, jadilah pekerjaan itu dengan mulus—direkam sudah oleh seorang sahabatnya Abrar Yusra yang sempat menyerahkan tulisan itu kepada Majalah Horison dan dimuat di nomor XXII/402, waktu Navis berusia 63 tahun.

Di sekitar tahun 1987 Navis mengadakan wawancara tentang ilmunya mengenai biografi dan otobiografi. Menarik adalah keterangannya, bahwa pada dasarnya ia memiliki banyak interest dalam hidupnya. Dan itu sesuai dengan apa yang pernah dilakukannya. Ia berhasil di banyak bidang. la pernah jadi guru, turut dalam kelompok musik sebagai peniup flute, jadi wartawan, jadi anggota DPRD (nyasar ke lapangan politik praktis), diakui orang berhasil pula mengarahkan beberapa kejadian dalam kehidupan politik di wilayahnya, di samping menulis fiksi yang kebanyakan berdasarkan kenyataan hidup.

Bahwasanya ia merekam pengalaman hidup Hasjim Ning adalah disebabkan antara lain karena pandangannya: jangan hanya tokoh di bidang politik dan militer saja yang ditulis. Maka ia bertindak. Ia menulis (atau menuliskan) tentang yang berjuang dan pernah sukses di bidang ekonomi dan perdagangan.

Pernyataan penting yang dikeluarkan Navis mengenai penulisan di bidang ini adalah, bahwa ia tidak bisa menulis biografi tokoh atau orang yang tidak disenanginya, “Menulis biografi demi uang saja, misalnya, itu (saya) tidak bisa, ndak mungkin!” kata Navis.

Mengenai Hasjim Ning, “Saya senang pada orangnya, di luar antara kami ada hubungan keluarga,” kata Navis.

Selanjutnya Navis bercerita bahwa tokoh yang ditulisnya haruslah berarti. Berarti dalam hal ini dimaksudkannya, apakah dia memiliki arti sejarah dalam kehidupan sosialnya, yang khas; belum pernah sebelumnya dimiliki orang lain. (Hasjim Ning sampai digelari orang “Henry Ford Indonesia!”). Diketahuinya, Hasjim Ning adalah orang Indonesia pertama, di zaman Indonesia Merdeka, yang dipercaya untuk mendapat pinjaman bisnis pertama dari bank umum Amerika.

“Dengan menulis biografi orang lain, saya tidak kehilangan kepribadian,” kata Navis. “Kebebasan saya sebagai penulis tetap terjaga kehormatannya. Dalam menulis(kan) otobiografi Hasjim Ning, misalnya, saya menulis apa yang ingin, yang saya rasa pantas untuk ditulis. Faktor subyektif saya ada di dalamnya! Harap diingat, saya bukan juru tulis tokoh yang saya tulis!” kata Navis.

Kemudian dia menambahkan: “Dalam penulisan otobiografi Hasjim Ning saya sudah mempunyai persepsi tentang yang mau saya tulis sebelum proses teknis digarap!”

“Menulis biografi lebih sebagai menulis rekaman dokumentasi sejarah dalam arti kata yang luas,” tambah Navis.

Navis berpendapat, menulis biografi atau membaca biografi, (adalah) untuk mengenal sejarah itu sendiri. Dalam pada itu ia menambahkan, “Dalam otobiografi Hasjim Ning itu, misalnya, cerita kehidupan pribadinya, kadang-kadang tidak ditonjolkan.” Dan ia sebutkan, “Menceritakan tokoh yang hidup, bukan fiksi, juga harus meyakinkan seperti yang dibutuhkan ketika kita menciptakan tokoh fiksi. Kita perlu dan kita juga sebenarnya menulis tentang sejarah yang dilintasi oleh tokoh biografi. Jadi bukan cerita tentang tokoh itu an sich!”

Kaitannya dengan karya sastra, Navis kemukakan, memang ada atau mesti ada kaitannya atau pengaruh penulisan karya sastra dalam penggarapan otobiografi yang saya kerjakan itu. Sebetulnya cara yang paling tepat untuk mengetahui hal ini tentulah dari reaksi pembaca.”

“Penulis biografi selain itu harus kuat pengetahuan tentang tokoh yang akan ditulisnya haruslah kuat pula pengetahuannya terhadap kalender sejarah serta materi-materi pengetahuan penunjang.”

“Kalau tidak memiliki latar belakang pengetahuan psikologi dan sosial,” tambah Navis, “biografi akan kering dan tidak meyakinkan pembaca.”

“Tugas utama penulis biografi adalah bagaimana meletakkan sejarah yang dilewati itu secara benar, hidup, karena itu menarik, sekaligus (secara) logis!” tambah Navis kepada Abrar.

“Yang rumit, jika yang diwawancarai tak mau terus terang, tidak semua diceritakan, banyak yang disembunyikan. Saya maunya segalanya terus-terang, lengkap, kaya, akurat, dan banyak dimensi. Yah, maunya kan seperti orang nulis di Amerika sana. Tapi itu tampaknya belum mungkin di Indonesia! Tak semua bahan yang kita anggap penting bisa didapat.”

Berkenan dengan kata-kata Navis itu di atas, saya bisa membayangkan bagaimana sikap Navis yang kesohor orang keras dalam pendirian itu sewaktu ia mewawancarai Hasjim Ning itu. Sebab kemudian ia berterus terang, bahwa ia tidak berhasil mengorek Hasjim Ning dalam dua hal. Yaitu, soal “intrik-intrik istana di zaman Soekarno. Kedua, bagaimana Hasjim Ning mengelola ekonomi bisnisnya supaya pengusaha lain bisa belajar walaupun timing dan keadaan sudah berubah. Itu yang saya ingin(kan) tapi Hasjim Ning tak mau kasi,” kata Navis.

Rupanya banyak pengalaman yang serupa yang Navis temukan, saya temukan juga dalam mewawancarai orang. Saya bisa mengkhayal, bagaimana Navis menggiring orang yang diwawancarainya, supaya berkata terus terang, jujur dan menarik. Itu tuntutan yang biasa dipakai oleh penulis biografi atau membantu otobiografi.

***

DICAMBUK oleh pikiran Navis, saya jadi merasa harus tambah cepat merekam pengalaman hidup banyak orang. Dan pasti bukan cuma mereka-mereka yang pernah duduk di kursi empuk. Tokoh seperti Marsinah, (bakal) amat menarik. Di samping bahwa kita, dari lingkungan dunia sastra berutang budi pada banyak teman kita, karena tidak sempat, atau belum sempat, meninggalkan buku-buku yang berarti tentang mereka yang sudah tiada. Saya terus digitik jika ingat pada Taslim Ali (alm.), penerjemah yang paling ulung di antara kita, dengan bukunya Puisi Dunia. Ia seperti begitu saja lewat tanpa dibicarakan orang, padahal jasanya amat banyak. Kita benar-benar berutang budi padanya.

***

DALAM wawancara dengan Abrar itu, ada Navis mengatakan, bahwa, “Kebetulan yang bersangkutan (Hasjim Ning) mau ulang tahun ke-70 saat itu. Jadi ada semacam keinginan baik. Agaknya jadi semacam mode juga, memperingati ulang tahun dengan menulis riwayat hidup,” kata Navis.

Kali ini Navis sendiri bakal menginjak ulang tahunnya yang ke-70. Dan kita secara gembira juga memperingati ulang tahunnya, memenuhi mode itu pula, menulis atau mengenang riwayat hidupnya, atau mengenang pergaulan dengannya, pengetahuan kita tentangnya atau tentang karyanya. Pendeknya, kita menaruh simpatik kepadanya. Maka kita menulis baginya.

Jakarta, September 1994