KEPINGAN KENANGAN

MULA-MULA saya bimbang juga sedikit, mau mulai dari mana saya menulis tentang A.A. Navis. Saya terbentur pada keterbatasan saya mengenalinya dengan baik, akibat tidak banyaknya saya bergaul secara langsung sehari-hari. la menetap di Padang dan saya di Jakarta.

Saya mulai mengetahui pribadinya sejak kami bersama-sama mengikuti Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau tahun 1970 di Batu Sangkar. Tapi lebih banyak pengenalan saya (banyak dalam arti relatif) dari tulisan-tulisannya berbentuk artikel ataupun dari ceramah-ceramahnya, makalah dalam seminar, simposium dan diskusi, baik di dalam maupun di luar negeri. Tetapi lebih penting lagi tentu pengenalan dari karya sastra ciptaannya sendiri, baik yang sudah dibukukan maupun yang belum.

Orang akan dapat misalnya menyimpulkan pesan Navis dalam “Robohnya Surau Kami”. Haji Saleh telah ‘ditembak’ oleh Navis dengan ceritanya bahwa Tuhan telah ‘menerakakannya’ akibat ketidakpeduliannya kepada hidup keluarganya karena Haji Saleh ini hanya asyik beribadah siang dan malam, pagi dan sore tanpa mau bekerja.

Dan kematian garin surau mereka yang tak terduga sebagai akibat konflik jiwa, memperkuat amanat pengarang dalam cerita ini, bahwa hidup di dunia jangan disia-siakan, di samping persiapan bekal menghadapi akhirat jangan pula dicecerkan.

Saya tahu bahwa sudah banyak orang bicara, terutama mahasiswa, sarjana, dalam artikel-artikel atau makalah-makalah, skripsi, dan bentuk lainnya yang sevata merenik (detail) menelaah karya-karya Navis dari berbagai aspek. Karena itu dalam catatan kenangan ini saya tidak menyampaikan telaah tentang karya-karyanya: Cukup hanya melihat beberapa aspek pribadinya yang manusiawi, yang bagi saya menarik untuk diingat. Catatan ini jelas berbentuk kepingan-kepingan.

Maka mulailah saya mencoret-coret seberapa yang saya dapat, artinya apa yang teringat di lipatan kenangan yang muncul secara tak beraturan, melompat dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain.

***

TERINGAT saya ketika saya mengajak Navis di rumah saya bersama sejumlah pengarang lainnya di Kuala Lumpur. Mereka menghadiri sebuah seminar sastra. Setiap malam kami ‘maota’ berbusa-busa. Suatu malam saya menjamu mereka makan ketan dengan durian, pasangan khas makanan cara Minang. Sambil bergurau Navis mengatakan bahwa orang sering menyediakan ketan lebih banyak dari duriannya. Apa sebabnya? Mungkin kalau ketannya banyak, orang cepat kenyang. Duriannya sedikit termakan. Jadi hemat durian. Atau mungkin karena duriannya lebih mahal dari ketan, katanya lagi. Karena itu ketannya saja diperbanyak. Pak A. Hasjmi yang waktu itu bertamu ke rumah saya dan juga ikut makan, tersenyum- senyum saja. Entah mengerti beliau, entah tidak. Ayat Rohaedi juga memandang kiri-kanan karena memang tak begitu mengerti. Navis seakan tak peduli akan omongannya. Piring durian yang di depannya cepat kosong. Tampaknya ia minta tambah duriannya. Mursal Esten tentu paham betul apa yang dimaksud Navis. Istriku—adiknya yang sekampung—turut pula tersenyum. la buru-buru lari ke belakang mangambil durian tambahan. Berkat sindiran Navis, kami berkecintung lagi menikmati makanan kesukaan umum di Minang itu.

***

LALU saya pikir-pikir lagi kesan yang Iain. Saya teringat beliau berpakaian lengkap, jas dan dasi, ketika menghadiri jamuan makan malam pada suatu malam di rumah kediaman Tun Abdul Razak; PM Malaysia, tahun 1972, ketika menghadiri Seminar Sastra Nusantara di Kuala Lumpur. Orang lain semuanya tak ada yang pakai jas, karena suasana jamuan itu akrab dan santai saja. Ketika iseng-iseng saya tanyakan kenapa tidak pakai batik saja, ia menjawab bahwa yang ada hanya jas ini, katanya sambil menegangkan kerah jasanya itu. Ah, bisa saja dia menjawab, kata saya dalam hati. la menjawab tak punya batik, mungkin karena tak punya atau tak membawanya, tetapi juga mungkin tak membaca undangan. Saya juga pernah mengalami kesalahan pakaian ketika menghadiri jamuan makan malam Panglima Tentara Darat Malaysia untuk menghormati kunjungan Kasad R.I. ke Malaysia. Waktu itu saya lupa baca sudut bawah kartu undangan. Saya pakai batik. Tetapi orang semua berpakaian lengkap, berjas dan berdasi. Memang dalam undangan disebutkan lounge suit. Dengan terburu-buru saya kembali ke rumah mengganti pakaian setelah Wakil Dubes kita menegur saya pula. Dengan terengah-engah dan terlambat sedikit, saya akhirnya masuk ke ruangan jamuan setelah ‘terbang’ dengan mobil p.p. hotel-rumah. Tetapi Navis tidak diminta mengganti pakaiannya ketika jamuan di kediaman Tun Razak tadi, karena hanya pertemuan santai saja.

***

NAVIS adalah orang yang cepat akrab kalau sudah kita kenali. Ketika ia sempat menginap beberapa hari di rumah saya di Kuala Lumpur, selalu ia memanggil si Evi kemenakan saya, lebih dahulu, setiap ia pulang berjalan atau bangun pagi dan bangun sore.

“Evi, ma kopi den!” (Evi, mana kopi saya)

“Ya mak,” jawab Evi.

“Lakeh saketek, den auih bana!” (Lekas sedikit, saya haus benar)

Si Evi menyelinap ke dapur. Sesudah Navis menghirup kopinya, baru ia mulai bicara dengan saya, ke hilir ke mudik. la selalu memancing saya dengan pertanyaan sebagai sambungan pertanyaan sebelumnya, terutama tentang pengalaman saya menjadi ‘diplomat’ (Atase Pendidikan dan Kebudayaan). Rupanya ia pandai betul bicara perihal pusat perhatian seseorang seperti Dale Carnegie. la belum tahu bahwa saya hanya ‘diplomat’ sementara atau ‘diplomat-diplomatan’ menurut istilah orang-orang Deplu. Memang atase apa pun (imigrasi, perhubungan, perdagangan, pertahanan, dan Iain-Iain) bukan diplomat karir ‘asli’ binaan pendidikan luar negeri Deplu.

Saya coba bergurau menerangkan bahwa pengalaman saya yang penting adalah saya terbiasa tiap hari pakai jas dan dasi. Lalu sudah biasa pula makan dengan seperangkat alat untuk memasukkan makanan dan minuman ke dalam mulut tanpa bunyi sendok berlaga dengan garpu atau piring, cara menyedot kuah sop, mengubak kulit pisang—dan ini tidak boleh lupa—sambil makan melihat dan bicara dengan tamu yang duduk di kiri-kanan. Lalu mobil pakai nomor DC (dalam singkatan Inggris atau CD dalam singkatan Belanda atau Perancis). “Gagah, bukan?” saya yakinkan dia. Saya terangkan pula apa itu ‘sakit diplomatik’ yaitu alasan tidak mendatangi suatu undangan karena ada halangan atau pertimbangan yang tentunya bersifat politis, walaupun kita segar-bugar.

Sementara itu ia biasanya minta tambah kopi lagi.

Kadang-kadang diperpanjangnya pertanyaannya sampai menghabiskan kopi dua gelas lebih. Maklumlah mamak di rumah kemenakannya.

***

PERNAH pula ia datang menjengukku di rumah sakit. Ketika itu saya katakan bahwa saya dilarang dokter makan ini-itu, padahal perut lapar-lapar terus. Terasa kejam juga dokter. Tapi apa kata beliau?

“Syukurlah masih dilarang. Kalau sudah dibolehkan makan semua, bagaimana? itu artinya kita sudah tamat dan harus tutup buku. Begitu bukan? Paham angku?”

Aku mengangguk lemah.

“la, kan? Artinya kita tak terobati lagi. Jadi dibebaskanlah kita makan apa saja agar lepas dari derita lapar dan haus, toh tak punya harapan lagi,” sambungnya.

Saya lantas teringat orang yang akan dihukum mati. Sebelum eksekusi dilakukan, terhukum diberi kesempatan minta makan apa saja yang diinginkannya. Baru digantung atau ditembak.

Terhibur juga saya.

***

ENTAH bergurau atau tidak, saya mendengar ceritanya pula, bagaimana Navis menerima mahasiswa yang sedang membuat skripsi. Tapi maunya mahasiswa ini ditunjukkan saja semuanya, apa yang menjadi tema dan amanat cerita dan bagaimana pemecahannnya. Navis agak kesal juga karena menurutnya si mahasiswa ini tidak membaca dengan baik isi cerita. Si mahasiswa ingin terima jadi saja. Navis mengatakan, “Kalau begini biar saya menerima ‘upah’ saja.”

***

YANG betul mengejutkan saya ialah sikapnya yang keras waktu upacara penyampaian Hadiah Seni (beberapa tahun sebelumnya bernama Anugerah Seni) Bidang Sastra Departemen P dan K tahun 1988. Pada penerima hadiah diminta oleh protokol agar menempati tempat yang telah ditandai. Sayang caranya kurang jelas dan kurang sopan sehingga tangan penerima hadiah termasuk Navis ditarik-tarik seperti mengatur anak sekolah. Navis agak berang dan dengan merentak pergi ke pinggir sambil memberengut, “Kalau begini caranya saya tak usah dapat hadiah,” sambil bertahan di pinggir. Baru setelah protokol minta maaf dan memperbaiki sikapnya, ia tenang lagi. Lalu berjalan ke tempat yang telah disediakan.

Akhirnya semua berjalan lancar. Bahkan kemudian ia ‘maotaota’ dengan saya dan beberapa kawan yang hadir sebagai undangan.

***

SUATU hari bulan Mei 1994, saya menerima kartu bergambar Ka’bah yang berkilau indah. Setelah saya perhatikan gambar Ka’bah, cepat saya balik kartu tersebut untuk mengetahui apa ucapannya atau kesan pendeknya ketika berada di Mekkah dalam rangka menunaikan ibadah haji. Tetapi… tidak ada apa-apa tertulis kecuali sebuah tanda di bagian bawah. Apa maksudnya gerangan? Apa maknanya ruang putih kosong itu? Apakah ia ketika menulis itu sudah yakin merasa bersih dari segala noda (mudah-mudahan begitulah hendaknya) dan kembali kepada fitrahnya dalam menghadapi hidup ini selanjutnya? Tentu beliau sendirilah yang tahu. Lama saya terdiam sambil tetap menatap gambar Ka’bah itu. Saya bukan kiai, bukan ulama, tetapi ikut ‘hanyut’ dalam setiap peristiwa keagamaan yang betul-betul menyentuh batin, seperti ketika membaca kesan Navis selama menjalankan rukun Islam kelima ini, yang saya ikuti secara bersambung dalam harian Singgalang. Saya yakin penyerapannya terhadap agama begitu mendasar. Sirnalah semua yang selama ini ia dianggap sebagian orang sebagai seorang sekuler. Memang ia beragama tidak untuk dilihat orang atau hanya mengingat akhirat saja seperti tokoh Haji Saleh dalam “Robohnya Surau Kami”.

***

KINI Haji Ali Akbar Navis berusia 70 tahun. Sejumlah penghargaan untuk karya dan ketokohannya telah diterimanya sebelumnya, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Terakhir ia menerima Anugerah Sastra South East Asia Write Award dari pemerintah Thailand (1992), dan Anugerah Sastra Pertama dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra (1992).

la masih tetap aktif dalam berbagai bidang, antara lain menulis karya sastra serta giat dalam bidang pembinaan kesenian, seperti Dewan Kesenian Surnatera Barat (sebagai Ketua) dan Badan Koordinasi Kesenian Pusat dan Daerah.

Pengalamannya selain pengurus badan-badan kesenian amat banyak, seperti wartawan, dosen, pegawai negeri (Jawatan Kebudayaan) dan pegawai perusahaan swasta.

Ia sungguh kreatif dan kaya akan pengalaman. Dan kita mengharapkan ia masih akan terus memberikan perhatian dan sumbangannya bagi pembinaan kebudayaan nasional.

Kita percaya ia akan terus ‘ada’ dan akan tetap ikut serta.

Dan sebagai penutup, saya yang mengingat kenangan ini ingin menyampaikan semacam ‘apologi’ seperti kebiasaan kebanyakan orang Minang yang suka berlepas tangan atau galir.

Mancabuik rumpuik di tapi tabek

Tabek talatak di bawah talago

Disabuik sajo sado nan dapek

Nan indak dapek kabaa lai pulo.

Ombak baguluang di tangah lauik

Urang mamanciang baduo-duo

Kok ado ambo nan salah sabuik

Urang Iain Iai indak sato do.

Bahasa Indonesianya:

 

Mencabut rumput di tepi tebat

Tebat terletak di bawah telaga

Disebut saja mana yang dapat

Yang tidak dapat bagaimanalah lagi.

Ombak berguluang di tengah laut

Orang memancing berdua-dua

Kalau ada saya yang salah sebut

Orang lain tidaklah ikut serta.

 

Jakarta, November 1994