SOSOK DAN KEMANUSIAAN A.A. NAVIS YANG SAYA KENAL
SUATU siang di akhir Maret, 1972, teman saya Makmur Hendrik memberitahu kami—pengurus Dewan Mahasiswa IKIP Padang yang masih tersisa dari pengunduran diri secara paksa oleh Rektor—bahwa sebentar lagi akan datang beberapa anggota DPRD Tingkat I Sumatera Barat sebagai penengah. Dewan Mahasiswa (Dema) IKIP Padang yang diketuai oleh Saudara Makmur Hendrik dipaksa Rektor Prof.Dr. Isyrin Nurdin agar membubarkan diri dan segera menyerahkan mandat kepada caretaker Muzni Ramanto yang ditunjuk rektor dengan surat keputusan tertanggal 20 Maret 1972.
Hal ini tentu saja menimbulkan protes di kalangan mahasiswa, terutama pengurus Dema IKIP Padang. Padahal, status Dewan waktu itu tidak berada di bawah komando pimpinan institut, melainkan dibentuk dan di-SK-kan oleh Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) yang anggotanya dipilih oleh mahasiswa sendiri secara demokratis di tiap fakultas. Tindakan rektor itu dinilai inkonstitusional. Hubungan rektor dengan Dema hanya bersifat konsultatif, tidak hirarkis.
Rektor bersikeras dengan putusannya itu, bahkan mengancam mengeluarkan mahasiswa yang terlibat aksi protes. Akhirnya tinggallah 6 orang personil pengurus Dema yang dipimpin oleh Makmur Hendrik, menggelar aksi duduk siang malam di depan rektorat, termasuk saya. Aksi ini mendapat simpati dari kalangan mahasiswa dan cepat tersebar ke pelosok Nusantara berkat media surat-surat kabar karena Makmur juga seorang wartawan. Dukungan moril dan materil berdatangan dari Dema-Dema di Sumatera Barat dan Iain-Iain propinsi, termasuk Dema Universitas Indonesia.
Selaku bendahara Dema sisipan Makmur (sebelumnya saya seksi humas) sumbangan uang berupa wesel serta telegram simpati, maupun uang kontan saya simpan di kantong jeket selama berada di Iokasi aksi duduk yang berukuran 4 x 4 meter itu, dibatasi tali dan spanduk protes. Kondisi itu menimbulkan kepanikan di kalangan pimpinan IKIP, tambah pula banyak dosen yang pro Dema, terutama dosen-dosen muda, DPRD Tingkat I Sumatera Barat turun tangan. Maka anggota DPRD yang diutus sebagai penengah itu dijurubicarai oleh A.A. Navis. Saya tidak tahu, entah duduk di komisi apa beliau waktu itu. Tapi itulah pertama kali saya bertemu muka dengan pengarang legendaris yang selama ini baru saya kenal hasil karyanya, melalui buku-buku fiksi terbitan Nusantara.
Berperawakan kecil, lincah, terutama dalam berkomunikasi dengan kami. Gayanya yang kocak dan akrab, membuat kami tergelak- gelak hingga lupa sejenak bahwa kami dalam keadaan ‘perang’ dan stres. Dan ia mendengarkan penuh perhatian segala uneg-uneg yang kami sampaikan serta mencatat yang penting-penting untuk dicatat. Jika selama ini saya kenal A.A. Navis melalui cerpen-cerpennya, saat itu saya bangga dapat bertatap muka dan tidak pernah terpikirkan bahwa kelak kemudian hari saya menjadi dekat dengannya secara pribadi.
***
SEUSAI peristiwa itu, saya melanjutkan hobi saya menulis puisi dan cerita pendek, terutama untuk koran lokal Haluan dan Singgalang. Seperti biasa, saya langsung mengantarkan karangan saya ke kantor redaksi. Suatu sore, saya Iihat Darman Moenir teman saya sesama penulis muda bercakap-cakap dengan A.A. Navis, sementara saya melihat dari jarak jauh saja karena merasa masih terlalu kecil, baik usia maupun kualitas karya tulis saya dibanding dengan seorang A.A. Navis. Dari riwayat hidupnya yang tertulis di belakang buku karangannya, saya ketahui usia A.A. Navis 48 tahun waktu itu sedangkan saya 22 tahun. Darman Moenir yang lebih muda dari saya dua tahun, terdengar memanggilnya Abang. Begitu juga saya dengar Asnelly Lutan yang usianya setahun di bawah saya, memanggil A.A. Navis dengan panggilan sama.
Begitulah sore itu di kantor redaksi surat kabar harian Haluan, saya saksikan Darman Moenir, Asnelly Lutan, Rusli Marzuki Saria penyair dan redaktur budaya Haluan terlibat suatu pembicaraan yang tampaknya serius, sambil berdiri mengelilingi meja Rusli. Lalu Darman memanggil saya dan memperkenalkan kepada A.A. Navis.
“Ini Harris, penyair muda kita.”
Saya mengangguk sopan padanya. la langsung bicara: “Kalau mau jadi penyair tidak boleh setengah-tengah. Wawasan dan pengetahuan mesti luas. Saya menganjurkan pada Darman dan Asnelly agar membentuk grup diskusi sastra. Kamu tentu saja boleh ikut serta,” ujarnya sambil berlalu meninggalkan tempat itu.
Sepeninggalnya sore itu kami masih mendiskusikan bentuk diskusi sastra yang akan diadakan itu. Soal tempat, sudah didapatkan ruangan kantor PWI Cabang Padang yang terletak di sebelah kantor redaksi Haluan. Undangan diskusi akan disebarkan melalui stop press ruang budaya Haluan tiap hari Selasa. Grup studi itu diberi nama “Krikil Tajam”, dan diketuai oleh Darman Moenir dan Asnelly Lutan sebagai sekretarisnya.
Mula-mula diskusi diadakan hari Minggu, seminggu sekali. Kadang-kadang bergeser ke hari Sabtu. Materi diskusi adalah karya penulis-penulis muda, termasuk karya saya berupa puisi. Tampaknya A.A. Navis merupakan motor penggeraknya. Malah untuk beli nasi bungkus bagi peserta diskusi yang terdiri dari penulis-penulis seangkatan saya itu berasal dari kantong A.A. Navis. Konon uang itu dari honornya menulis di koran. Penyelenggaraan dan peserta diskusi jumlahnya tidaklah banyak, boleh dihitung dengan jari. Akan tetapi yang datang kemudian adalah penulispenulis senior seperti Leon Agusta, Chairul Harun, Anas Kasim, Wisran Hadi, Upita Agustin (Raudha Thaib) dan Iain-lain yang ikut menghangatkan diskusi, akhirnya ramai juga.
Hampir semua senior itu memanggil A.A. Navis dengan panggilan Abang, atau Bang Navis. Sejak itu saya ganti panggilan Pak saya menjadi Bang pula karena ikut arus. Apalagi di dalam diskusi saya suka meniru gayanya, dengan guyon menangkis serangan lawan debat. Dan semakin lama semakin tahulah saya sikap A.A. Navis yang positif terhadap kreativitas individu dalam karier manulis. la penuh atensi, sebaliknya jika menurutnya peserta diskusi hanya main-main, ia akan langsung membabat. Salah seorang teman saya yang rajin ikut diskusi sastra Krikil Tajam tapi jarang menulis, di-cut dengan tajam. “Saudara hanya pandai mencaci maki karya orang lain. Karangan Anda mana? Kalau ada, bawalah ke sini minggu depan. Kalau tidak, jangan datang lagi. Percuma. Menghabiskan ludah Anda saja.”
Teman saya itu tetap hadir diskusi, tetap vokal dan tidak peduli dengan ancaman Bang Navis. Tapi tampaknya Bang Navis tidak marah. Lalu dalam hati saya simpulkan bahwa A.A. Navis juga senang dengan anak muda yang mada, tapi percaya diri dan pintar.
***
SUATU malam di tahun 1973, sehabis diskusi dan pembacaan sajak-sajak Leon Agusta di Pusat Kesenian Padang (Taman Budaya sekarang), kami kongkow-kongkow sambil minum kopi bersama Bang Navis sebagai pusat jala tumpuan ikan. Katanya, “kalian-kalian penyair muda, harus sekarang-sekarang mencoba mengirim sajak ke majalah sastra Horison. Kalau tidak, kapan lagi? Kecuali kalau mau tetap menjadi penyair lokal tanpa dikenal oleh orang-orang luar Sumatera Barat, menulis saja terus di Haluan. Kan banyak media Iain macam majalah Budaya Jaya, majalah kebudayaan Basis yang terbit di Yogya dan seterusnya. Dalam dua tahun ini tidak juga ada kemajuan, berhenti saja kalian jadi penyair.”
Semua terdiam. Diam-diam saya dan Asnelly serta Darman berpandang-pandangan. Beberapa hari sebelumnya kami telah mengirimkan naskah ke Horison secara serempak. Mendengar kata- kata Bang Navis itu ciut perasaan saya. Saya kuatir kalau-kalau puisi saya ditolak Horison hingga saya dianggap penulis muda yang mandul. Untunglah beberapa bulan setelah itu majalah sastra Horison yang terbit dengan kertas lapuk tapi berwibawa itu memuat sajak-sajak orang Padang secara serempak, termasuk seorang penyair Riau. Mereka yang sajak-sajaknya dimuat itu adalah: Rusli Marzuki Saria, Leon Agusta, Abrar Yusra, Hamid Jabbar, Harris Effendi Thahar, Upita Agustin, Darman Moenir, dan Wanulde Syafinal (bermukim di Pekanbaru). Saya tidak tahu pasti, apakah penerbitan sajak-sajak Padang itu semata-mata hasil putusan redaksi atau atas ketebelece A.A. Navis.
***
MELALUI Darman Moenir saya dapat kabar bahwa Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Pusat Kesenian Jakarta mengundang secara kolektif penyair-penyair Sumatera Barat untuk menghadiri Temu Sastrawan Nusantara bulan Desember melalui Bang Navis. Saya tidak dapat ikut karena terikat kontrak kerja dengan lembaga riset dari University Bonn (Jerman) di Bukittinggi. Saya hanya mendapat laporan saja dari Asnelly Lutan tentang jalannya pertemuan Sastrawan Nusantara di Jakarta itu ketika Asnelly datang menemui saya di Bukittinggi untuk membicarakan kelanjutan diskusi sastra Krikil Tajam yang diselenggarakan dua kali seminggu di Padang. Jika saya tak sempat hadir diskusi, saya hanya menitipkan sedikit uang pada Asnelly untuk kelancara diskusi itu. Waktu itu saya sudah berpenghasilan Iumayan bagi seorang bujangan.
Baru pada tahun berikutnya saya sempat ikut rombongan sastrawan Sumatera Barat ke Pertemuan Sastrawan Nusantara di TIM Jakarta pada bulan Desember. Atas kesepakatan Bang Navis dengan pihak penyelenggara, yakni Dewan Kesenian Jakarta, penyair-penyair muda dari Padang akan tampil dengan pertunjukan bakaba, sastra lisan Minangkabau dengan media kesenian tradisi baindang. Abrar Yusra menolak ikut dalam acara ini. Latihan dan penanggung jawab rombongan ke TIM dipimpin oleh Chairul Harun. Tidak itu saja, Wisran Hadi dan Upita Agustin (Raudha Thaib) ikut pameran besar seni rupa.
Kami berangkat naik bus melalui jalan Lintas Sumatera. Bang Navis menyusul dengan pesawat terbang. Tiga hari tiga malam diguncang bus yang meluncur di jalan buruk memang melelahkan, namun untuk tampil di TIM adalah suatu kebanggaan. Semua yang menyangkut biaya pemberangkatan diurus oleh Bang Navis melalui Pemda Sumatera Barat. Dan di dalam grup, kami sering bertengkar satu sama lain. Hanya Bang Navis yang dapat mendamaikan kami di Jakarta. Malah secara diam-diam, kami (saya dan Darman) mendapat uang saku tambahan di Jakarta dari Bang Navis, apalagi setelah itu diumumkan kemudian bahwa Wiswan Hadi dan Darman Moenir masing-masing memenangkan sayembara penulisan naskah drama dan novel yang diselenggarakan oleh TIM. Saya ikut gembira. Namun hal itu menjadi tantangan besar bagi saya dalam hal kerier menulis kreatif. Lebih-lebih setelah dipanas-panasi Bang Navis.
“Nah, sekarang Wisran dan Darman sudah sah jadi sastrawan nasional. Kamu kapan?” katanya kepada saya. Telinga saya terbakar. Termasuk Alwi Karmena yang ikut dalam rombongan itu.
“Jangan dengarkan orang gaek itu, ia memang suka meledek,” kata Alwi.
Sampai di Padang pun Bang Navis selalu meledek saya.
“Kamu baru mampu membuat sajak. Kalau belum menulis cerpen atau novel di tingkat nasional, itu belum masuk kitab. Tidak sama dengan kami yang duduk di sini. Ini semua barisan sastrawan nasional (Bang Navis, Wisran, dan Darman). Jadi, Harris belum pantas semeja dengan kita ya Wis?” katanya sambil melirik Wisran Hadi.
Lama-lama bagi saya ucapan Bang Navis itu bagai duri dalam daging. Saya marah pada diri saya yang tidak kreatif. Kalau pun saya menulis novel, saya belum berani mengirimnya ke penerbit di Jakarta, kecuali memuatnya di harian Haluan, Padang, secara bersambung. Dan saya berusaha menghindar bertemu dengan Bang Navis. Kepada teman-teman saya katakan, bahwa saya membencinya. Saya menuduhnya tidak mendidik, mematahkan semangat orang. Saya marah padanya hingga saya tak mengundang Bang Navis ketika saya menikah di bulan Februari 1976.
Pada pertengahan bulan Agustus ketika saya mengajak istri saya menghirup udara pantai Padang di sore hari, sebuah sepeda motor bebek mengikuti langkah kami di belakang. Motor bebek itu makin lama makin mendekat hingga kami segera menoleh dan menepi lebih ke pinggir.
Ternyata Bang Navis. la tersenyum pada saya dan istri saya. Saya cepat-cepat memperkenalkan istri saya padanya. la menanyakan keadaan kandungan istri saya yang pertama itu. la menanyakan apakah istri saya, Meitra, suka muntah-muntah, dijawab istri saya tidak lagi.
“Kalau begitu, makanan apa yang paling enak sekarang?”
“Sate,” jawab istri saya.
Lalu Bang Navis memasukkan tangannya ke dalam kantong dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas yang menurut saya jumlahnya cukup banyak (saya sedang menganggur), diberikannya pada istri saya sambil berkata: “Sehabis ini, pergi makan sate Laweh berdua ya? Suruh suamimu ini mengarang yang bagus, biar jadi sastrawan terkenal seperti Abang.”
Istri saya masih kaget ketika Bang Navis hilang di balik tikungan.
“Mengapa selama ini kamu tidak mengajak saya ke rumahnya?” sesal istri saya.
“Entahlah, saya benci sama dia,” jawab saya seenaknya.
“Benci? Baru saja ia penuh atensi pada saya, kamu kok benci? Lucu kamu. Dia kan orang besar, salah apa dia padamu?”
“la suka meledek saya di depan orang ramai,” jawab saya.
“Oo, cuma itu. Kamu kan juga bisa meledek dia.”
Tidak mungkin saya mampu meledek Bang Navis sebelum saya mampu menembus media-media Jakarta yang bergengsi untuk karya-karya saya. Baru di tahun 1981 bertubi-tubi cerpen saya dimuat harian Kompas edisi Minggu dan majalah sastra Horison. Sampai sepuluh tahun kemudian, hanya sayalah satu-satunya cerpenis dari Padang yang mampu menembus Kompas tak putus-putus tiap tahunnya. ltu akibat keberangan saya pada A.A. Navis yang suka meledek itu.
Di tahun 1983, ketika Dr. Umar Junus yang menetap di Kuala Lumpur itu berada di Padang beberapa minggu, memuji cerpen-cerpen saya, di depan Bang Navis. Bang Navis tertawa terkekeh-kekeh hingga teman-teman yang ada di majelis itu terheran-heran.
“Mengapa Uda tertawa?” tanya Umar Junus.
“Itu berkat saya tuba, hingga ia merabo.”
“Betul Ris?”
“Karena saya diledek terus, empat tahun saya tidak mau menegurnya,” jawab saya jujur.
“Itu kan bagus,” kata Umar Junus.
“Memang bagus,” jawab saya.
Semua tertawa hingga sampai Bang Navis melelehkan air matanya karena terlalu banyak tertawa.
“Sekarang kan sudah teguran?” tanya Umar Junus.
“Sudah dua tahun ini. Tapi dia yang duluan memanggil saya,” kata saya sekenanya. Suasana menjadi hangat dan kami waktu itu memanfaatkan waktu Dr. Umar Junus tuk belajar banyak tentang sastra dan ilmu sastra.
***
DI PERTENGAHAN tahun 80-an, atas permintaan penulis-penulis muda di Padang, Krikil Tajam dihidupkan lagi. Darman Moenir yang bekerja sebagai staf Museum Adityawarman minta izin pada bos-nya Boestami untuk memakai ruangan sidang guna penyelenggaraan diskusi sastra Krikil Tajam itu. Alhamdulillah dibolehkan di sore hari selepas jam kantor atau pada hari Minggu. Malah Pak Boestami meninggalkan uang ala kadarnya untuk jedah acara diskusi serta memberikan salah seorang pegawainya untuk melayani kepentingan diskusi.
Pengurus Krikil Tajam hanya tinggal saya dan Darman. Asnelly Lutan sudah lama wafat di Jakarta ketika ia menjabat sebagai redaktur senior majalah Kartini. Diskusi kami coba angkat sebulan sekali. Tak enak rasanya tanpa melibatkan Bang Navis. Begitulah suatu kali diskusi sastra Krikil Tajam membedah cerpen saya “Kopi Pahit” yang dimuat Kompas. Bang Navis bersedia menjadi pembicara dengan menulis empat folio makalah. Tidak berapa lama kemudian sebuah perguruan tinggi swasta di Lubuk Alung datang kepada saya menanyakan apakah A.A. Navis mau menjadi penceramah di bidang sastra di perguruan tinginya untuk mahasiswa di sana? Saya yakinkan bahwa kalau tidak ada acara yang berdempet, beliau berkemungkinan besar mau.
***
Di STKIP Lubuk Alung itu Bang Navis mengatakan kepada mahasiswa yang hadir pada waktu itu, bahwa seorang A.A. Navis yang baru saja kembali dari Tokyo, lalu langsung menjadi pemakalah untuk suatu seminar di Bandung, akhirnya berceramah di Lubuk Alung, sebuah kota kecamatan yang tak tertera dalam peta nasional, bersama cerpenis Harris Effendi Thahar.
“Jadi, sekarang saya telah menjadi penceramah dari pekan ke pekan,” katanya dan disambut tepuk tangan oleh mahasiswa STKIP Lubuk Alung.
Di usianya yang telah mulai Ianjut, Bang Navis masih menyediakan waktu untuk hal-hal remeh temeh dunia sastra yang bagi orang lain mungkin merupakan dunia yang tak menarik perhatian lagi. Akan tetapi, dengan kebesaran namanya, kehadiran Bang Navis di tengah-tengah generasi muda pencinta sastra di kampus-kampus di daerah ini merupakan suatu kebanggaan. Hampir selalu saya perhatikan, setiap selesai ceramah, panitia selalu menyelipkan amplop berisi uang sebagai tanda terima kasih. Namun, ketika itu juga uang itu langsung habis di meja restoran bersama panitia dan teman-teman yang hadir dan dekat dengannya. Malah kalau masih ada sisa, uang itu dibagibagi kepada siapa saja yang dianggapnya amat membutuhkannya. Ternyata ia tak pernah berubah sejak saya kenal 22 tahun silam, yakni tentang kepeduliannya terhadap lingkungannya yang memerlukan bantuan, sekecil apa pun, jika dia bisa, pasti dilakukannya tanpa mengharapkan pujian dan sanjungan.
Saya tahu betul, ia pantang dipuji-puji dan dihormati secara berlebihan. Biasanya di dalam diskusi-diskusi atau seminar, seorang penanya selalu menempatkan dirinya di bawah-bawah. Bang Navis akan selalu berkata terus terang dan lugas. “Saya tidak setinggi yang Saudara sebut tadi. Saya tak lebih tak kurang, sama dengan Anda, sama-sama manusia biasa yang punya kelebihan dan kekurangan. Saya tak suka Anda terlalu merendahkan diri di depan saya. Rendahkanlah dirimu di depan Sang Pencipta.”
***
KETIKA ide untuk membentuk Dewan Kesenian Sumatera Barat mengapung ke permukaan melalui tulisan dan polemik di surat-surat kabar daerah, banyak orang bertanya kepadanya, apakah ia bersedia menjadi ketua. la menjawab seperti apa yang ditulis koran, “Jangan tanya saya, tanyakan yang muda-muda itu. Saya sudah tua. Mereka yang lebih bersemangat. ”
“Tapi mereka minta dukungan Bapak,” kata wartawan koran yang mewawancarainya.
“Masa, sudah beranak-pinak mereka, para seniman itu masih minta didukung juga. Betul-betul tidak mengerti saya. Mental apa yang sudah merasuki generasi ini. Mental cirit apa pula itu,” jawabnya berang.
Akhirnya isu Dewan Kesenian Sumatera Barat itu menghilang dari peredaran selama dua tahun lebih. Baru muncul kembali ketika Presiden menganjurkan di tiap-tiap daerah dibentuk Dewan Kesenian untuk membantu pemerintah dalam menumbuhkankembangkan kesenian. Gubernur Sumatera Barat, Drs. H. Hasan Basri Durin minta dengan sangat agar Bang Navis mau memprakarsai lahirnya Dewan Kesenian itu. Maka setelah diundang seluruh seniman dan yang patut-patut diundang untuk membicarakan pembentukan Dewan Kesenian itu, A.A. Navis terpilih sebagai ketua formatur. Formatur terdiri dari empat orang yang diketuai A.A. Navis dengan anggota Chairul Harun, Wisran Hadi dan Armeyn An. Yang terakhir ini mewakili pemerintah daerah, kepala biro Bintal kantor gubernur Sumatera Barat.
Adapun tugas formatur ini adalah membentuk pengurus Dewan Kesenian Sumatera Barat, dan membuat peraturan dasarnya yang kemudian akan dikukuhkan oleh gubernur dengan suatu surat keputusan, dalam tempo dua pekan. Di waktu proses penggodokan pengurus Dewan Kesenian itulah, di gedung H. Abdullah Kamil, Yayasan Genta Budaya Padang, saya dipanggil Bang Navis. Saya ditunjuk sebagai sekretaris dewan yang akan dibentuk itu dan Bang Navis sebagai ketua. Saya setuju, namun usul saya untuk beberapa nama yang akan memegang jabatan-jabatan di dalam tubuh Dewan itu sebagian besar ditolak Bang Navis dengan alasan:
“Orang-orang yang duduk di dalam tubuh Dewan ini hendaknya orang-orang yang punya kepedulian terhadap orang lain, tidak untuk orang-orang yang hanya peduli pada dirinya sendiri.”
Mendengar jawaban Bang Navis itu, saya tak bisa bercakap lagi.
Saya merasakan kebenaran asumsinya itu, karena untuk menjadi pengurus suatu lembaga yang akan melayani masyarakat, tentulah diperlukan kepedulian yang memadai terhadap masyarakat yang akan dilayani. Kalau tidak, lembaga itu akan tinggal nama, atau berkelahi antar sesama pengurus. Namun saya yakin, akan terjadi pro dan kontra kelak kemudian hari setelah Dewan Kesenian itu terbentuk, bila sejumlah nama yang saya usulkan itu tidak masuk. Bang Navis tidak peduli, sebagai ketua formatur ia punya hak untuk menentukan siapa-siapa yang dianggapnya mau bekerja sama dengannya dalam kepengurusan Dewan Kesenian Sumatera Barat.
Memasuki usianya yang ke-70, saya terkesiap, lebih-lebih ketika saya terima surat undangan untuk menuliskan kesan-kesan yang mendalam saya terhadap pribadi A.A. Navis dari panitia peringatan 70 tahun A.A. Navis. Ternyata tanpa kehadiran A.A. Navis yang melecut saya untuk terus menulis, mungkin sudah lama saya tinggalkan pekerjaan itu. Nasib memang telah digariskan Tuhan, karena kepenulisan saya itu pulalah jurusan Pendidikan Bahasa dan sastra Fakultas Pendidikan Bahasa dan seni IKIP Padang mau mengambil saya sebagai staf pengajar tetap saat usia saya telah memasuki usia ke 44. A.A. Navis tidak pernah menjadi guru saya di depan kelas, tetapi saya telah belajar banyak darinya selama 22 tahun ini, termasuk bagaimana caranya agar tetap disayangi istri.
Tabing, 29 Mei 1994
Leave A Comment