KETEMU GUS DUR

Oleh: A.A. Navis

 

Baru saja aku dipindahkan dari brankar ke ranjang di

ruang gawat darurat RS Harapan Kita Jakarta

Presiden tiba sambil mengacungkan salam

Yang tak aku lepas sampai berpisah.

 

Sambil bersalam kataku padanya

“Gus Dur,

bangsa kita hanya kenal pada presiden

seperti maharaja

seperti kaisar

seperti diktator dengan atribut di bahu dan dada

biar kelihatan angker dan perkasa.”

 

“Gus Dur,

bangsa kita ini, birokrat dan aparat terutama

pada kagok ketika tiba-tiba

ada kiayi jadi presiden

begitu sulit mereka mentransformasi pikiran

atau sama sekali tidak mau

karena sudah beku.”

 

“Gus Dur,

bahwa bangsa ini yang mayoritas muslim

lupa pada perjalanan sejarah agama kita

bahwa ada khalifah seperti Harun al Rasyid

secara incognito menemui fakir miskin

untuk mengobat luka lara

bahwa ada khalifah seperti Umar bin Abdul Aziz

yang memadamkan lilin milik negara di ruang kerja

demi ada keluarga datang mengurus diri pribadi.”

 

Setelah presiden dan rombongan berlalu

tinggallah aku sendiri

dengan segala peragat medik pada tubuh

dan aku berkata dalam hati.

 

“Gus Dur,

bila ada tanggapan miring bahkan menolakmu

dari aparat dan birokrat maafkan saja, karena

wataknya memang cecunguk bergaji kecil

namun berezki segunung ledang

yang selalu bersumpah jabatan Demi Allah

untuk diingkari lagi.”

 

“Gus Dur,

teman kita yang elite politik

juga teman kita yang ilmuwan pakar

yang sama merasa pemenang reformasi

mengingatkan aku pada masa usai revolusi

setengah abad yang lalu

ketika semua orang mengaku jadi pemenang

meski selalu mundur ketika diserang

meski tidak pernah meletuskan bedil pada musuh

selain pada bangsa sendiri

mereka sama menuntut imbalan jasa

sama haus untuk didengar tradisi vokalnya

sama berselera memenuhi segala yang dicitanya

seperti si punguk yang merindu

sambil beretorika:

“Masa engkau saja jadi presiden

lalu kami yang juga reformis dapat apa?”

 

“Gus Dur,

Dini hari aku tersintak dari tidurku

oleh azan subuh yang mendayu-dayu

sayup sampai ke tengah bangsal yang temaram

aku menerawang panjang ingat bangsaku

yang jika memakai analogi pribahasa lama

“Di negeri orang buta si celek jadi raja”

maka di negeriku tercinta mengapa

kau yang dipilihkan Tuhan

isyarat apa yang disampaikan-Nya

apakah Tuhan mau bercanda atau menguji

atau mengutuki semua dosa bangsa

karena yang melek matanya tapi buta hatinya.

 

“Gus Dur

jika kau yakin menerima amanah

ikuti kearifan khalifah Tuhan di bumi

bila ketemu reformis yang bengal

maklum mereka putra bangsa

bila ketemu politisi kekanak-kanakan

maklum mereka minta dimanjakan

bila ketemu politisi munafik

maklum mereka lagi kesiangan

bila kepergok aparat itu maling

maklum sudah tradisinya begitu.

 

Ajari mereka sesuai dengan perintah Sang Nabi.

 

Jakarta, 20. 04.00