A.A. NAVIS YANG “BUKAN” GURU SAYA
PERTAMA KALI saya kenal Uda Ali—begitulah saya memanggil Ali Akbar Navis—di RRI Bukittinggi, tahun 1953. Ketika itu, saya bersama Salius K, Oyong Syafiroeddin Kaoem, dan Emmy Djufri (kini Dr.H. Emmy Ruslyn di RS Persahabatan Jakarta) mengadakan sandiwara radio. Ceritanya berjudul “Tom dan Dessy”, disiarkan atas nama SMP II Atas Ngarai Bukittinggi. Salius membisikkan pada saya, “Itu pemahat patung A.A. Navis”. Orang yang disebut Navis itu berdiri di satu koridor studio, kurus kecil. Karena dalam benak saya pemahat patung senantiasa bertubuh semacam Nabi Musanya Michel Angelo, saya kurang yakin Navis itu pematung. Kemudian barulah ketika saya ikut Pameran Pelukis Sumatera Tengah tahun 1954 di Padang, saya mengenal lebih dekat siapa beliau. Apa yang dibilang Salius itu adalah sah. Kalau tidak salah, dalam pameran itu Navis menyertakan dua buah patung, masing-masing berjudul “Potret Diri” dan “Komponis Mozart”. Dua buah patung ini pernah saya kagumi, sebab sebelumnya saya lihat ada di sanggar pelukis SEMI di Jalan Nawawi Bukittinggi, dan saya anggota termuda organisasi pelukis itu.
Dua hal mengapa patung itu saya kagumi. Pertama, di Bukittinggi tak ada pematung sebaik Navis. Kedua, agak subyektif, karena kecintaan saya kepada musik-musik ciptaan Mozart. Baik patung “Potret Diri” Navis, maupun patung Mozart sama-sama mengenakan “dasi musikus”. Ini membuat saya penasaran, jangan-jangan A.A. Navis itu tidak sekadar pematung. Ternyata penasaran saya memberi bukti: A.A. Navis seorang pemain musik juga.
Navis juga saya kenal sebagai manusia yang asyik. Sebagai anak muda yang ingin jadi pelukis dan pengarang, Navis saya anggap baik. Sebagai penulis muda, saya merasa tidak dilecehkan oleh beliau, yang namanya sudah tenar di majalah sastra Kisah yang memuat cerpen-cerpennya. Tetapi lebih dari pengarang, dia pandai bercerita secara memikat. Buat orang Minang, dia pandai mahota…. Mahotanya Navis tak bisa diartikan dengan pandai ngobrol…. Dengan mahota itu, Navis kadangkala juga ngibul untuk mempengaruhi pendengarnya. Kalau dia menggambarkan seseorang, orang yang dia ceritakan itu memang persis. Tetapi lebih persis lagi, jika orang yang dia ceritakan itu dia benci. Dia akan menggambarkan orang itu seperti sebuah karikatur. Katakanlah kita tahu dia ngibul, tapi kita senang dengan cara dia bercerita.
Cara dia mahota ini merupakan satu teknik yang dimiliki Navis yang tidak bisa ditiru pengarang lain. Pernah ada satu tokoh diceritakannya pada saya, yang kebetulan tidak dia sukai. Dia melukiskannya secara karikatural. Tokoh itu seorang pejabat bertubuh tambun yang memang enak untuk dikarikaturkan. Navis telah menggambarkan tokoh itu Kepala Kantornya dengan sempurna. Kebetulan saya mengenal pula pejabat yang dia lukiskan. Orang tersebut terlalu banyak omong mengenai kebudayaan, padahal dia tidak mengenal apa-apa mengenai kebudayaan.
Cerita pendek A.A. Navis yang terkenal “Robohnya Surau Kami”, menurut ceritanya pada saya dulu, diinspirasikan oleh cerita gurunya, Pak Syafei, Direktur INS, Kayu Tanam, khususnya mengenai tokoh Ajo Sidi. Tetapi bagi saya pribadi, cerpen “Robohnya Surau Kami” menjelaskan kepada saya bahwa Navis sangat mengerti mengenai agama Islam. Bagi orang yang gemar pada kebebasan, dan melihat agama dalam totalitas, cerpen “Robohnya Surau Kami” adalah sebuah referensi.
Mungkin orang hanya tahu siapa orang yang disukai A.A. Navis. Tetapi jika hendak jujur dalam menulis riwayat hidupnya, kita juga harus mengetahui siapa “musuh Navis”. Orang tersebut adalah pelukis Zetka* yang telah memperistri gadis, yang dicintai oleh Navis yang bernama Betty.*
Walaupun salah seorang pendiri SEMI (Seniman Muda Indonesia) Bukittinggi bersama Zetka, Betty dan Djanain, saya tak pernah lihat A.A. Navis berkelompok di sanggar ini.
Diajak oleh bos Penerbit Nusantara, Anwar Sutan Saidi, saya bersama-sama A.A. Navis pernah satu kantor di Jalan Tembok Bukittinggi. Kami diberi tugas sebagai redaktur Penerbit Nusantara tapi tidak sebagai pegawai. Ketika itu tahun 1955—1956, sebelum saya akhirnya meninggalkan Bukittinggi. Navis punya gagasan menerbitkan buku sastra dalam ukuran pocketbooks. Para pengarang Indonesia ketika itu sangat produktif menulis cerpen. Jadi pocketbooks itu memprioritaskan kumpulan cerpen ketimbang novel. Buku kumpulan cerpen itu jelas menggambarkan tiap pengarang, maka A.A. Navis mengusulkan pocketbooks Nusantara itu memakai label Seri Denai (denai sama dengan aku). Kami juga aktif menulis di ruangan sastra koran lokal Semesta, yang baru terbit pimpinan Osman Hasibuan, sebuah harian yang akhirnya bangkrut.
Setelah saya ke Yogya tahun 1956, nama Navis cuma saya saksikan di Majalah Kisah, atau saya dengar dari Nasjah Djamin. Pengarang Yogya ini rupanya seringkali berkorespondesi dengan Navis.
Saya berjumpa kembali dengan A.A. Navis setelah Orde Baru. Dia hadir menyaksikan Pameran Lukisan saya sekeluarga, di Balai Budaya. Tampak sekali dia kurang gembira dengan mutu pameran tersebut. Saya memberikan sebuah lukisan “Ayam” untuk Uda Ali pasang di dinding rumahnya di Padang.
Pada suatu kesempatan lain, ketika saya mengantarkannya pulang ke rumah Hasjim Ning di Cikini, saya menyesal karena lupa memberitahukan dia, bahwa buku biografi Hasyim Ning yang dia tulis, sebetulnya—menurut versi Ed Zulverdi (majalah Tempo)—akan dimintakan pada saya. Tetapi Haji Wa’ang, penulis pojok suratkabar Pedoman (Rosihan Anwar) telah mengolok-olok rencana itu dengan menyebut tepat sekali bila Motinggo Boesye yang menulis biografi Hasjim Ning. Hasjim Ning telah membatalkan rencananya, dan beberapa tahun kemudian meminta A.A. Navis yang menuliskannya. Kesan saya, memang bukan A.A. Navis yang seharusnya menulis biografi Hasjim Ning tersebut.
Saya jumpa lagi dengan A.A. Navis ketika dia diminta oleh Dewan Kesenian Jakarta berbicara dalam suatu forum di TIM. Ketika itu tahun 1993, sewaktu A.A. Navis baru saja menerima hadiah sastra dari Raja Muangthai. Saya hadir di pertemuan itu.
Ketika saya ikut bicara, mengaku sebagai murid yang berguru pada A.A. Navis, saya dipermalukan oleh beliau di hadapan beberapa sastrawan dan wartawan, karena dia menolak pernah jadi guru Motinggo Boesye.
“Saya tak pernah menjadi gurunya. Memang pernah saya bilang ketika itu (di Bukittinggi tahun 1954), jika ingin terkenal kamu harus sombong. Dia Boesye akhirnya benar-benar jadi orang yang sombong, bahkan paling sombong karena pada saya pun dia sombong. Kalau kesombongan ini dianggap saya yang mengguruinya, bisa saja.”
Terakhir saya jumpa dengan Uda Ali Navis ketika beliau datang ke rumah saya bersama Taufiq Ismail, Ati Taufiq, dan kemudian Chaerul Umam. Saya sudah tahu, kedatangannya ke rumah saya menjelaskan persoalan undangan haji buat saya. Konon dia telah mengirimkan faks pada saya bahwa saya ditunjuknya menggantikan Ramadhan KH untuk menunaikan ibadah haji tahun 1994. Tapi (ketika itu) memang saya merasa belum “pas”, sehingga ketika dia datang malam itu saya bilang bahwa saya tak bisa menerima dia lama-lama karena sudah janji akan nonton dengan puteri saya Gina. Navis menyembunyikan kejengkelannya. Ketika itu saya tunjukkan “bukti” bahwa saya memang sudah akan menonton.
“Ya setelah kita omong-omong, kalau mau nonton, ya nontonlah. Mana si Las?” ‘tanya Uda Ali. Saya katakan padanya, istri saya Lashmi sedang sembahyang di atas.
“Saya mau bicara dengan dia,” ujar Navis.
Saya tak heran, di Bukittinggi, di kawasan Parak Hotel, A.A. Navis memang bertetangga dengan Lashmi.
Ketika istri saya turun, Navis mengatakan, bahwa “Boesye tidak mau naik haji. Dia ini memang sombong. Boleh saja sombong, tapi kalau sudah pulang haji pun boleh juga sombong. Las…karena Boesye tidak mau naik haji, Las mau nggak naik haji?”
“Tentu mau,” kata istri saya.
“Nah. Las mau naik haji. Carikan muhrim,” ujar Navis dengan gaya cerdiknya yang hebat. Tanpa menanti jawaban istri saya, Navis berkata: “Jika tak ada muhrim, Uda (maksudnya AA. Navis sendiri) yang akan jadi muhrim!”
Sungguh pandai Navis menjebak orang. Inilah yang ingin saya ungkapkan dari kecerdasan seorang Navis. Dia mencegat “jalan permainan”, sehingga sekejap setelah dia menyatakan dirinya mau menjadi muhrim istri saya, maka saya pun ‘meledak’:
“Et-et nanti dulu. Ini muhrim Lashmi. Bukan Uda Navis,” kata saya.
“Kalau begitu Boesye bersedia naik haji, dong,” katanya.
Saya tak bisa bicara. Tetapi kejadian itu begitu berkesan sekali, karena Navis begitu piawai dalam “mengurung” seseorang. Saya terkesan betul, setelah itu kami berempat ke rumah Taufiq Ismail. Di rumah ini A.A. Navis memberikan sebuah buku yang berjudul Haji karya Ali Shariati, agar saya membacanya karena memuat petunjuk bagi calon haji.
“Ini harus dipotret supaya otentik,” ujar Navis.
Dan Ati, istri penyair Taufiq Ismail mengambil foto itu. Malam itu dia berjanji akan menelepon Menteri Agama supaya istri saya bisa ikut berangkat haji. Di pintu dia berkata pada saya: “Nanti kita ketemu lagi di Mekkah. Kita ngopi di warung ya.”
Namun di Mekkah saya tak bertemu dengan Navis.
Sekitar sebulan setelah pulang ibadah haji, A.A. Navis menelepon ke rumah saya. Kebetulan saya sedang keluyuran di TIM. Tapi lewat istri saya, Uda Ali Navis sempat-sempatnya menanyakan kesehatan saya, punya atensi. Baik sekali dia.
*Suami istri ini tewas bersama, ketika PRRI sekitar 1957/1958.
000
Leave A Comment