Bias Perjalanan

Oleh: A.A. Navis

 

Benarlah katamu, kawan

bahwa, apa guna menghitung langkah

yang tertinggal jadi jejak

yang akan mengabur jalan sejarah

karena langkah itu baru berarti

kalau dituju ke dalam diri

tidak risau pada waktu sudah berlari.

 

Kenapa pula kau katakan

bahwa, yang berlalu hampa semata

untuk menempuh jalan maju

orang perlu berganti baju

berganti bulu.

 

Mungkin,

kau tak merasa Iuka tak tersembuh

bekas tusukan taji beripuh

hingga jasad melumpuh

sampai harkat meluluh

perjaka yang terancam mati terbunuh

dalam jilatan api revolusi melepuh

yang marak oleh tiupan nafas keruh.

 

Mungkin,

kata-katamu bisa jadi penenang lega

karena percik kebenaran dari apimu

jauh beda dengan apinya yang menyala

meski berasal sama apinya dan apimu

namun dari bahan bakar berbeda.

Karena itu, kawan

kata-katamu yang memukau

takkan menyembuhkan hati yang luka

karena dia tidak melangkah menuju ke hati

seperti kau

yang matang oleh panjangnya usia

ketika revolusi kau sertai.

(Buat Rivai Yogi penyair “Perjalanan”)

13.01.51