SURATKABAR TAHUN 1960-AN
SURATKABAR PARTISAN
ISI suratkabar Indonesia awal 1960-an hampir semuanya mencerminkan perjuangan partisan. Arus pokoknya didominasi oleh perjuangan ideologi, baik yang antikomunis maupun yang komunis serta pertentangan aliran kepartaian.
Hal yang demikian itu merupakan akibat langsung sistem politik waktu itu yaitu “Nasakom” (nasional, agama, dan komunis). Rezim penguasa mengharuskan tiap suratkabar mempunyai cantelan dengan salah satu partai politik. Maka ada suratkabar yang mencantelkan diri dengan PNI (Partai Nasional Indonesia), PKI (Partai Komunis Indonesia), Nahdhatul Ulama, dan ada pula dengan Partai Murba.
Pada masa itu, mungkin bukan hanya pengasuh suratkabar yang mengidentifikasikan diri dengan ideologi dan aliran-aliran politik tertentu, melainkan juga para pembaca, para penulis atau para penyumbang karangan.
Mustahil mereka yang bukan berideologi komunis misalnya bekerja di suratkabar yang menjadi corong partai komunis. Demikian juga sebaliknya, hampir mustahil mereka yang menganut ideologi komunis bekerja atau menulis di suratkabar yang antikomunis. Bahkan, polemik antar suratkabar sekalipun sering berlangsung hanya berupa jawab-berjawab di masing-masing suratkabar, bukannya tampil dalam satu suratkabar.
***
PADA awal tahun 1960-an, di Sumatera Barat hanya ada dua suratkabar yaitu harian Res Publika dan harian Penerangan yang kemudian berganti nama menjadi Suara Persatuan.
Menurut penilaian orang banyak, harian Res Publika adalah corong PNI dan Suara Persatuan adalah corong PKI. Awal tahun 1963 terbit sebuah suratkabar lagi di Padang yaitu harian Aman Makmur. Orang banyak menilai suratkabar tersebut sebagai bukan corong PNI dan bukan pula corong PKI. Corong partai mana? Menurut pendengaran saya, orang NU merasa harian yang baru terbit itu corong NU, orang Murba demikian pula. Tetapi ada pula yang mencapnya sebagai corong eks-partai Masyumi/PSI yang waktu itu jadi partai yang sudah dibubarkan.
Suratkabar tersebut oleh pengasuhnya dikatakan independen, tetapi warnanya yang antikomunis sangat jelas. Dalam konteks kekinian suratkabar tersebut dapat dikategorikan sebagai “menentang arus”.
Parewa yang ‘Sato Sakaki’
Mungkin berdasarkan mottonya yang “untuk pembangunan daerah demi kejayaan bangsa” suratkabar Aman Makmur sering dituduh Suara Persatuan sebagai hendak membangkitkan kembali perasaan “provinsionalisme” dan “daerahisme”. Suratkabar tersebut mempunyai rubrik tetap “Adat Limbago”, “Mimbar Jumat”, dan “Parewa Sato Sakaki”, serta rubrik-rubrik lain.
Tema dasar tulisan-tulisan dalam rubrik “Adat Limbago” adalah penafsiran baru nilai-nilai agama, sedangkan “Sato Sakaki” pencerminan intelektualitas Minangkabau yang kritis, independen, bahkan di sana-sini sinis.
Tahukah Anda siapa penulis rubrik “Sato Sakaki”? Orangnya ialah Ali Akbar Navis dengan nama samaran “Parewa”. Muncul di harian Aman Makmur dua kali sepekan dan dalam keadaan-keadaan tertentu pernah mengambil oper kolom “Tajuk Rencana”. Ali Akbar Navis adalah salah seorang sastrawan Indonesia yang tetap bertempat tinggal di Sumatera Barat.
Sampai suratkabar Aman Makmur diberangus rezim Orde Lama (Maret 1965) Ali Akbar Navis tetap menulis di Aman Makmur. Saya sendiri bekerja pada Aman Makmur sejak Maret 1963, mulai dari pekerjaan sebagai korektor sampai menjadi redaktur dan memegang jabatan Wakil (II) Ketua Dewan Redaksi.
***
SETELAH pemerintahan Orde Baru berkuasa (sejak 1966) harian Aman Makmur dibolehkan terbitkan kembali, yaitu tahun 1969 tetapi berhenti terbit sejak tahun 1972. Saya sempat menganggur selama dua tahun dalam pengertian tidak punya hubungan kerja dengan salah satu penerbitan pun. Pada masa itu, saya diajak menerbitkan suratkabar Gesit oleh teman-teman di Yayasan Sastra Budaya Sumatera Barat di mana salah seorang pengurusnya adalah Ali Akbar Navis. Pengurus Iainnya adalah Chairul Harun, M. Joesfik Helmy, Roestam Anwar, dan lain-lain.
Suratkabar tersebut berhasil memperoleh SIT untuk tujuh kali seminggu, tetapi karena kesulitan keuangan hanya terbit beberapa kali berupa mingguan, setelah itu terhenti untuk selama-lamanya.
Ali Akbar Navis Membenahi Harian Semangat
Dalam tahun 1972 Ali Akbar Navis diangkat menjadi Wakil Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi harian Angkatan Bersenjata edisi Padang. Olehnya, nama suratkabar tersebut diubah menjadi harian Semangat dan editorialnya mencerminkan suratkabar umum. Saya waktu itu, walaupun menganggur, belum berhenti jadi pengurus PWI Cabang Sumatera Barat. Dalam suatu pertemuan konsultasi antara Pengurus PWI Cabang Sumatera Barat dengan Pangdam III/17 Agustus, di luar dugaan saya ditawari Ali Akbar Navis bergabung dengan Semangat, membantu di bidang usaha.
Saya mengandung rasa segan bersangatan terhadap sastrawan senior ini, karena itu saya tidak kuasa menolaknya. Saya terima ajakan tersebut dengan catatan bahwa saya bukan karyawan ‘reguler’, melainkan membantu beliau di bidang usaha. Jika menurut saya tugas saya sudah selesai, saya berhenti sendiri.
Pada masa itu terjadi ‘konflik’ antara Abang Navis (demikian saya memanggilnya dengan akrab) dengan Pemimpin Umum Semangat Pak Burhani TH. Burhani TH waktu itu Ketua DPRD Sumatera Barat dan Abang A.A. Navis anggota DPRD Sumatera Barat. Sebuah sidang DPRD Sumatera Barat diberitakan harian Semangat tertunda dilaksanakan karena pimpinannya pergi ke tempat lain menghadiri suatu upacara.
Pada hari berita itu tersiar, Burhani datang ke kantor Semangat dan mengadakan pertemuan dengan Abang Nayis. Saya dengar dari ternan-teman Abang Navis sejak hari itu menarik diri dari Semangat. Keesokan harinya dia memang tidak masuk kantor lagi.
Beberapa hari setelah itu, saya temui Pak Burhani di kantornya, di gedung DPRD Sumatera Barat. Saya melapor bahwa ketika dulu saya ditarik Abang Ali ke Semangat, ada semacam komitmen tidak tertulis bahwa kalau saya menganggap tugas saya sudah selesai, saya akan menarik diri. Kepada Pak Burhani saya nyatakan bahwa sejak pengunduran diri A.A. Navisa maka saya menganggap tugas saya sudah selesai dan bahwa mulai besok saya resmi menarik diri pula dari Semangat, komentar Pak Burhani waktu itu, tetapi bukan menyangkut saya melainkan Abang Navis. Saya diam saja toh solusi dari konflik sudah ada, yaitu berupa ditinggalkannya Semangat oleh Abang Navis.
Setelah menarik diri dari Semangat, tahun 1972 itu, saya pun menganggur kembali.
Februari 1973 saya bergabung dengan harian Haluan. Walaupun Abang Navis tidak menulis di Haluan, saya masih mengikuti tulisan-tulisannya di penetbitan lain terutama tulisan-tulisannya yang membela ‘mati-matian’ seorang caIon gubernur menjelang akhir 1992. Bagi saya tulisan-tulisan itu menjadi sangat menarik karena saya mendukung calon lain yang ditentang Abang Ali.
000
Leave A Comment